This site requires JavaScript. This message will only be visible if you have it disabled.

Silaturrahim Hidayatullah Medan Sambut Ramadhan 1436

Silaturrahim Hidayatullah Medan Sambut Ramadhan 1436


Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa, Kota Medan, Sumatera Utara, menggelar acara silaturrahim dalam rangka menyambut (tarhib) bulan suci Ramadhan. Acara ini berlangsung di Masjid Kampus Hidayatullah Medan, Ahad kemarin.

Pada kesempatan silaturrahim yang dihadiri ratusan santri dan warga serta jamaah ini menghadirkan penceramah KH. Hamim Thohari, M.si dari Jakarta. Beliau juga dalah Ketua Dewan Syura Hidayatullah.

Selain itu, hadir pula mendampingi Ustadz Hamim yakni Ketua PW Hidayatullah Sumatera Utara, Ustadz Ali Hermawan, dan Ketua Yayasan Hidayatullah Medan, Ustadz Choirul Anam.

Ustadz Hamim dalam taushiahnya mengimbau kembali pentingnya memanfaatkan momentum Ramadhan yang hanya ada sekali dalam setahun ini. Jangan sampai, kata beliau, masa-masa keberkahan di bulan suci ini terlewat begitu saja.

Beliau mengulas bahwa Ramadhan berasal dari kata 'ramidha-yarmadhu' bisa bararti 'membakar', 'menyengat' atau 'sangat panas'.

Dinamakan Ramadhan, karena cuaca di Arab terik matahari begitu panas luar biasa. Digambarkan sampai-sampai batu masih terasa panasnya hingga pertengahan malam. Apalagi sesuatu yang kering, sangat mudah terbakar.

Dari sini Ramadhan bisa dimaknai sebagai bulan penempaan jiwa dan pembakar dosa-dosa. Di bulan inilah Allah menjanjikan peninggian derajat dengan dilipatkan pahala, pengampunan dosa-dosa dan pembebasan diri dari api neraka. Tentunya bagi yang berpuasa semata-mata karena iman dan mengharap ridha-Nya.

Beliau menjelaskan, Ramadhan juga bisa berarti 'mengasah', karena masyarakat jahiliyah pada bulan ini mengasah alat-alat perang berupa pedang, tombak, panah, dan lain sebagainya untuk menghadapi pertempuran pada bulan berikutnya.

Saking tingginya kemuliaan Ramadhan, sebutan atau nama lainnya banyak sekali, diantaranya:

Syahr as-Shiyam (bulan wajib puasa). Ramadhan merupakan satu-satunya bulan yang disebut dalam al-Qur'an (QS al-Baqarah: 185). Hanya Ramadhan, bulan dimana Muslim diwajibkan berpuasa sebulan penuh.

Syahr al-Qur'an (bulan al-Qur'an). Pada bulan inilah al-Qur'an pertma kali diturunkan. Kitab suci sebelumnya juga diturunkan di bulan ini.

Ramadhan juga disebut sebagai Syahr al-Rahmah (bulan limpahan rahmat). Allah Ta'ala menurunkan rahmat yang tidak dijumpai di luar Ramadhan. Setan-setan dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan pintu-pintu surga dibuka ketika Ramadhan tiba. Dan masih banyak sebutan lain bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.
Sementara itu, Ustadz Ali Hermawan menekankan kembali urgensi Ramadhan sebagai madrasah pencetak manusia unggul yang siap mengejawantah nilai peradagan Islam.

Beliau menegaskan Ramadhan adalah kesempatan berharga. Powernya lebih bila ingin berbuat kebaikan. Allah Ta'ala sungguh-sungguh dengan janji-Nya. Rasul tak pernah menyia-nyiakannya. Ibnul Qayyim al-Jauziyah bahkan berkata dalam Zaadul Ma'ad, 'Nabi lebih banyak melakukan kebaikan di bulan Ramadhan. Beliau memperbanyak sedekah, berbuat baik, membaca al-Qur'an, shalat, dzikir dan i'tikaf.

Senada dengan itu, Ustadz Choirul Anam memungkasi acara silaturrahim itu dengan menyampaikan konklusi mengoptimalkan Ramadhan.

Menurut beliau, bolehlah kita katakan Ramadhan sebagai bulan kesungguhan dan keseriusan menghamba pada Pencipta. Karena itu, kata Ustadz Anam, mari kita maksimalkan Ramadhan dengan amalan-amalan mulia supaya jadi andalan kita menghadap Allah Ta'ala kelak.