This site requires JavaScript. This message will only be visible if you have it disabled.

Rayakan Tahun Baru Islam Hijriyah, Ponpes Hidayatullah Medan Gelar Apel dan Pawai Akbar

Rayakan Tahun Baru Islam Hijriyah, Ponpes Hidayatullah Medan Gelar Apel dan Pawai Akbar

TIDAK saja memperingai Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Sumatera Utara, juga melakukan upacara (apel) besar dalam rangka menyongsong tahun baru 1 Muharram 1437 Hijriyah yang diikuti oleh seluruh civitas kampus Hidayatullah Medan.

Apel menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram yang digelar di Lapangan Utama Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa Deli Serdang ini diikuti oleh seluruh santri, dewan guru serta pengurus pesantren.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Ustadz Chorul Anam, dalam pidatonya selalu pembina upacara pagi itu menyampaikan arahan dan pesan-pesan penting. Beliau berpesan kepada hadirin untuk menapaktilasi makna hijrah secara substansial.

Beliau mendorong segenap civitas Kampus Pesantren Hidayatullah Medan untuk senantiasa membangun mental hijrah, yakni kerelaan untuk terus melakukan perbaikan-perbaikan. Baik perbaikan secara individual maupun pembaharuan dalam skala kolektif.

Sehingga memasuki tahun baru Islam hijriyah ini harus menjadi momentum muhasabah agar kelak kita semakin menyadari betapa sesungguhnya kita masih memiliki banyak pekerjaan keummatan. Karena itu, kata Ustadz Choirul, jangan berhenti melakukan kebaikan.

"Mari kita terus melakukan perbaikan-perbaikan. Apa yang kurang kita lengkapi. Sehingga hijrah di sini juga berarti membangun etos kerja amal shaleh dan kemandirian," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga menjelaskan makna perintah hijrah dalam Islam. Hijrah kata beliau adalah sebagsi refleksi iman Islam untuk mengaktualisasi nilai-nilai akidah dengan orientasi berhijrah kepada Allah secara totalitas.

Beliau menjelaskan, secara historikal hijrah kenabian ini bertujuan untuk keluar dari belenggu masyarakat jahiliyah kepada jalan terang Islam. Sehingga jika dikontekstualisasi maka hijrah mengandung interpretasi yang begitu luas baik secara ruhiyah, bathiniyah maupun lahiriyah, baik secara mikro maupun makro.

Karena itu, kata Ustadz Choirul Anam, tahun baru Hijriyah 1437 ini dapat menjadi momentum bagi kaum Muslimin untuk berkreasi memberikan manfaat dalam interaksi antar sesama. Hijrah dalam konteks ini juga adalah menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, kebersihan, dan ukhuwah Islamiyah.

"Sehingga dari sini diharapkan tegak peradaban Islam dengan NKRI yang aman, sejahtera dan makmur yang mampu bersaing dengan negara lain secara terhormat dan beradab untuk membangun kemaslahatan umat manusia di seluruh dunia," imbuhnya.

Namun demikian, beliau juga mengingatkan bahwa kita umat Islam masih mengadapi banyak problem internal. Problem-problem tersebut seperti kemandirian, kedisplinan, dan sejenisnya. Juga munculna perselisihan antar kelompok dalam Islam, itu semua harus harus diatasi dengan kebijaksanaan dan kearifan sikap.

Pada apel itu Ustadz Choirul Anam didampingi Ketua Departemen Pendidikan Hidayatullah Medan, Ustadz Ali Akbar, melakukan inspeksi pasukan layaknya seorang tamu negara dalam sebuah kujungan kenegaraan yang berkeliling menilik setiap titik barisan pasukan.

Yang juga menarik dan unik adalah pada kegiatan upacara ini santri dibagi menjadi perkontingan dengan sistem perwakilan konsulat. Seolah-olah mereka adalah para konsulat yang bertugas mewakili "negara" masing-masing.

Diantaranta ada Konsulat Kodya Medan, Konsulat Kabupaten Dairi, Konsulat Kotacane, Konsulat Nias, Konsulat Pekanbaru, Konsulat Dumai, Konsulat Aceh, Konsulat Palembang, Konsulat Deli Serdang, Konsulat Binjai, Konsulat Lubuk Pakam, Konsulat Tebing Tinggi, Konsulat Asahan, Konsulat Batu Bara, Konsulat Indra Pura, Konsulat Labuhan Batu, Konsulat Kanopan, Konsulat Labuhan Bilik.

Wakil-wakil pejabat konsulat "negara-negara" sahabat ini menyesuaikan dengan asal santri itu sendiri. Jadi kalau santri berasal dari Palembang misalnya, maka ia tergabung dalam barisan Konsulat Palembang. Dan, seterusnya.

Usai apel dilanjutkan dengan pawai keliling Kota Tanjung Morawa menempuh jarak 7 km. Santri dibagi menjadi beberapa konsulat mewakili daerah asal masing masing. Apalagi ditambah pada kesempatan tersebut hadir juga Konsulat Malaysia meskipun hanya 3 orang.

Pawai ini berlangsung semarak karena iringan-iringan pesertanya yang memenuhi jalan dan cukup panjang. Bahkan semua jalur yang dilewati pawai ini membuat terkesima yang melihatnya. (ybh/hio)