Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Mei 2018

Ponpes Hidayatullah Medan Gelar Tarhib Ramadhan

MENJELANG Ramadhan 1439 H/2018, Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa - Deli Serdang Sumatera Utara menyelenggarakan kegiatan silaturrahim tabligh akbar menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Hadir sebagai pemberi taushiyah, Ustadz H Muhammad Suhail dari Pos Dai (Persaudaraan Dai Indonesia) Jakarta.

Kegiatan diikuti oleh 500 orang, dari kalangan santri, warga, pengurus DPW Hidayatullah Sumut, pengurus Inti DPD-DPD Hidayatullah se-Sumut serta jamaah pengajian Hidayatullah yang merupakan ummat binaan dari pesantren ini. Kegiatan diselenggaraka di Masjil Baitul Akbar Pondok Pesantren Hidayatullah.





Tujuan dari kegiatan ini adalah dalam rangka pembekalan memasuki Bulan Suci Ramadhan agar Ummat Islam pada umumnya, serta para santri dan Warga dan keluarga besar Hidayatullah khusunya. Dengan adanya Tarhib ini diharapkan semuanya bisa melaksanakan Ibadah di Bulan Ramadhan semaksimal mungkin.

Selain untuk mengingat kembali hal-hal yang berkenaan dengan Ibadah Ramadhan juga mengkaji syari'at seputar rambu-rambu Ramdhan agar tidak melanggar atau melakukan kesalahan yang fatal sehingga merusak ibadah ramadhan kita.

Selain mengkaji juga menambah wawasan keislaman serta menguatkan spirit beribadah di Bulan Ramadhan. Meskipun Ramadhan stiap tahun berulang, namun karena sifa. Manusia itu adalah pelupa, maka tidak ada salahnya pengajian mengenai ibadah Ramadhan diulang - ulang, apatah lagi kalau memang ada yang belum pernah mendengarnya sama sekali.

Dalam kesempatan tersebut juga dilaksanakan kegiatan berbagi bersama oleh BMH Medan, dimana BMH membagi Sarung dan Mukena kepada seluruh santri dan warga serta peserta yang hadir. Sarung dan Mukena tersebut merupakan sumbangan dari simpatisan dan donatur BMH serta Pondok Pesantren Hidayatullah Tamora.

Jumat, 01 Juli 2016

Buka Puasa Bersama Santri Yatim dan Dhuafa


Pondok Pesantren Hidayatullah Medan beserta segenap pengurus dan pengelola gelar buka puasa bersama dengan warga dan keluarga besar Pondok Pesantren Hidayatullah, masyarakat binaan, santriwan dan santriwati, masyarakat sekitar, para karyawan, para guru dan tenaga kependidikan.

Acara buka puasa bersama juga diikuti oleh ratusan anak yatim yang ada di Pondok Pesatren tersebut dibawah asuhan Panti Asuhan Anak Sholeh Madinatul Munawarah yang merupakan amal social milik pesantren ini. 


Kegiatan dimuali ba’da ashar dengan rangkaian kegiatan sebagai berikut : 1. Tadarrus Al-Qur’an Massal, Pengajian Fiqih Ramadhan oleh Pimpinan Pondok, Dzikir menjelang buka dan buka bersama, dilanjutkan shalat maghrib berjama’ah, makan bersama dilanjut shlat isya’ dan shalat tarawih. 

Setelah shalat tarawih dilanjutkan dengan pembagian THR dan Bingkisan lebaran untuk anak yatim dan dhu’afa yang berjumlah 200 orang lebih dari 600 orang santri yang ada di pesantren ini. Besaran THR cukup lumayan yaitu Rp. 150.000,- Org. sedangkan untuk Santri Pengabdian besaran THR nya adalah Rp. 300.000,-
Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah , Drs. Choirul Anam mewakili seluruh jajaran pengurus mengucapkan Ribuan terimakasih kepada para donatur yang telah menyisihkan dananya untuk terselenggaranya amal sosial ini, semoga Allah sendiri yang membalasnya.



Selasa, 16 Juni 2015

Taushiah Tarhib Ramadhan Ustadz Hamim Thohari

KITA senantiasa berdoa setiap kali hendak memasuki bulan Ramadhan agar disampaikan memasuki ramadhan.

اللهم بارك لنا فى شعبان وبلغنا رمضان

"Ya Allah, berkahilah kami dibulan Sya'ban dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan"

Nabi dan para sahabat selalu Gembira menyambut datangnya Ramadhan, mereka senantiasa mengucapkan marhaban yaa Ramadhan.

Dari kata marhaban itulah maka kita adalan Tarhib ramadhan. Perlu diingat bahwa Rasulullah tidak pernah memerintahkan kepada para sahabat khususnya, dan kaum muslimin pada umumnya , untuk memperingati isra' dan mi'raj maupun maulid nabi.

Tetapi khusus untuk menyambut Ramadhan, Nabi saw mengumpulkan para sahabat di masjid untuk memberi semangat kepada mereka dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Jadi jangan sampai keliru kita mengistilahkannya. Karena sesungguhnya berbeda pengertiannya antara targhib ( ترغيب, ) tarhib ( ترهيب ) dan tarhib  (ترحيب )

Targib artinya ancaman, tarhib dengan menggunakan huruf 'Ha' artinya anjuran dan yang terakhir dengan menggunakan 'kha' artinya ucapan selamat datang.

من صام رمضان ايمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

"Barang siapa berpuasa dibulan Ramadhan dengan dasar iman dan penuh perhitungan, maka diampuni dosa dosanya yang telah lalu"

Kita harus memasuki bulan Ramadhan dengan  ihtisaaban. Penuh perhitungan. Apa maksudnya dengan penuh perhitungan ?

Pertama, artinya kita memasuki bulan Ramadhan Harus ada modal. Modal apa? Harus ada persiapan mental dan punya target yang harus dicapai.Ibarat beedagang harus punya modal.

Tidak akan ada untung sebuah usaha jika tidak ada modal. Dagang krupuk saja pakai modal, apalagi memasuki Ramadhan.  Harus ada modal.

Lantas apa modal kita?. Modal utama kita memasuki ramadhan adalah iman.

يا ايهاالذين امنوا كتب عليكم الصيام ( البقرة : 183)

"Wahai orang orang yang beriman,diwajibkan atas kamu berpuasa" Al-Bawarah: 183.

Hanya mereka yang punya modal saja yang dipanggil untuk berpuasa. Modal itu adalah iman. Jika ada orang yang tdk punya modal kemudian ikut berpuasa di Bulan Ramadhan, itu artinya ndompleng puasa. Orang tersebut Tidak terdadtar sebagai orang beriman. Berarti tidak ada panggilannya. Tentu Orang seperti ini tidak dapat pahala.

كم من صائم ليس له الجزاء الا الجوع والعطس

"Betapa banyak sudah orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapat pahala, kecuali hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja."

Percuma saja kita berpuasa jika tidak ada iman dalam diri kita. Akan lelah saja kita. Akan capek saja kita. Jika kita berpuasa tetapi tidak dilandasi iman kepada Allah swt.

Yang kedua soal target, mau mendapat untung berapa kita sebenarnya?. Sebab Jangan sampai kita berpuasa tidak ada target apa-apa dengan puasa kita.

Ramadhan berlalu tetapi kita tidak mendapat apa-apa. Sama sekali tidak ada kebaikan yang kita peroleh. Karena tidak ada target yang kita pasang.

من حرم فيها فقد حرم -رواه احمد والنسائ-

"Barang yang tidak memperoleh kebaikan didalamnya (ramadhan), maka sungguh ia tidak memperoleh apa-apa." HR. Ahmad dan Nasa'iy. Jangan sampai kita masuk dibulan Ramadhan, tetapi kita tidak ada untung. Maka Target kita adalah taqwa. La'allakum tattaqun.

Yang ketiga adalah bagaimana prosesnya.

Ingat proses itu sangat penting. Seba Pisang saja yang dijual mentah atau tanpa digoreng, dengan pisang yang diperam,dikupas dan kemudian  digoreng,dikasih tepung dll tentu harganya berbeda.

Karena sudah melewati proses.Ibarat produk, harus ada input,proses dan output. Ramadhan adalah madrasah. Bagaimana seharusnya Ramadhan merubah diri kita.

Ada fenomena yang terjadi ditengah-tengah masyarakat kita yang perlu kita hindari jangan sampai hal itu terjadi pada diri kita. 

Banyak orang yang lebih mementingkan lebaran daripada mementingkan ibadah dibulan Ramadhan. Ibadahnya biasa biasa saja, tetapi untuk mempersiapkan lebaran sungguh luarbiasa persapannya. Habis-habisan untuk lebaran. Makanannya, pakaiannya, programnya.

Biasanya Kalau terjadi perbedaan penentuan awal ramadhan , masyarakat merasa tak ada masalah, tetapi kalau sudah menyangkut perbedaan penentual awal jatuhnya idul fitri, semua ribut. Mengapa terjadi seperti itu? Ya ......Karena yang mereka utamakan adalah lebaran. Disinilah ironisnya.

Lalu Apa sebenarnya yang diproses?






Yang pertama adalah.shiyam, dan yang kedua adalah qiyam.

Jangan sampai puasa hanya diisi dengan tidur melulu. Jika input (iman) sdh betul, tetapi prosesnya Tidak betul, yakni tidur melulu,lalu hasilnya apa? Ya tai mata saja???.

Jangan sampai salah mengartikan hadits, tidurnya orang puasa adalah ibadah, kemudian dibalik, ibadahnya orang puasa adalah tidur.

Harus ada mujahadah, ada usaha maksimal dalam ibadah dibulan Ramadhan. Ada perjuangan keras. Ada perlawanan dalam diri untuk menghindari malas dalam beribadah.

(وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ( ال عمران :١٣٣

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa" QS. Ali Imran :133

Ramadhan untuk Membangun Tiga Kecerdasan

Selain kerja keras dalam meraih ampunan dan surga sebagai bentuk kecerdasan spiritual, orang yang bertaqwa juga memiliki kecerdasan finansial serta kecersasan emosional.

(الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِين

"(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." ( QS. Ali-Imran 134 )

Wasyariu ila maghfiratin. Itu adalah kecerdasan spiritual, sedangkan "Wa Anfiqu " itu adalah kecerdasan finansial ( peduli), dan "Wal-Kadzimiima alghaidza" adalah kecerdasan emosional( mampu menahan marah, cerdas sosial ( suka memafkan ), cerdas spiritual ada juga pada bertaubat segera jika bersalah (jika salah segera bertaubat ).

Kecerdasan finansial:

Cerdas mencari rizki dan cerdas membagikannya. Kita termasuk yang man? Yang pandai mencari uang atau yang membelanjakannya. Pernah anda mendengar kisah orang terkaya di dunia yang bernama Billgate? Bill Gates, orang terkaya didunia.

Kalau ada uang satu juta rupiah nilainya , jatuh di jalanan, dia tidak mau mengambilnya. Mengapa? Karena untuk mengambilnya dibutuhkan waktu dua detik. Sementara penghasilan Bill Gates adalah satu milyard rupiah kira kira per dua detik.

Makanya Bill Gates merasa rugi kalau membuang waktu dua detik untuk mendapatkan uang hanya satu juta rupiah nilainya. Artinya apa? Artinya kita sebagai orang beriman kalau bisa harus kaya.

Sebab dengan menjadi kaya kita bisa berbuat banyak. Kita bisa memberi. Org yang ndak punya apa apa, pasti tidak bisa memberi . untuk bisa memberi kita Harus punya apa apa. Minimal punya niat untuk memberi. Punya tenaga, punya pikiran.

Oleh karena itu Kebiasaan berinfak harus ditanamkan sejak dari kecil. Jangan sampai anak-anak kita hanya diajari kali-kalian serta tambah-tambahan saja. Tetapi saat belajar bagi bagian tdk pintar. Padahal keributan selama ini terjadi soal pembagian tho? (ha-ha-ha).

ليس الغنى بكثرة المال ولكن الغنى غنى النفس

"Bukanlah yang disebut kaya itu adalah karena banyaknya harta, tetapi yang disebut kaya adalah kaya jiwa"

Jangan sampai kita kita menjadi orang yang kikir Tdk mau sedekah karena uangnya intuk beli akik ( ha ha ha ). Tanda orang pelit itu suka ngumpulin barang-barang antik. ( ha ha ha ).Bukan orang cerdas yang hanya bisa ngumpulin harta. Malah itu membinasakan .

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,sampai kamu masuk ke dalam kubur." (QS.Attakatsur : 1-2)

"Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang selalu mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa haranya itu dapat mengekalkannya." QS.Al-Humazah 1-3.

Celaka orang yang kerjanya hanya menghitung- hitung harta dan tidak mau menginfakkannya. sehari-hari Wiridnya Hanya duit duit duit. Tutup toko ndak pulang- pulang karena menghitung duitnya. Jangan sampai harta itu berputar hanya pada org yang kaya saja.

Tugas kita sebagai khalifah adalah mendistribusikan uang kepada yang membutuhkannya, kalau belanja jangan di supermarket terus. Tetapi banyak saudara-saudara kita yang muslim menjual barang-barang kebutuhan kita, kita membelinya pada dia, tetapi kita milih membelinya di supermarket.

Al yadul ulya khoirun min yadis sufla. Inilah cerdas finansial.

Cerdas emosial

Kendalikan emosi, kendalikan marah, kendalilan rasa benci, kendalikan  sedih. Kendalikan rasa gembira. Jangan tertawa berlebihan, Kendalikan tertawa. Contoh kecerdasan emosi nabi, adalah ketika ada orang badui kencing di masjid.

Ketika itu seluruh sahabat marah, termasuk Umar bin Khattab. Semua ingin menghajar si Badui itu. Tetapi Rasulullah justru melarang Umar untuk tidak mengganggunya, bahkan Rasulullah memerintahkan kepada Umar agar membiarkan si badui itu menyelsaiakn buang air kecilnya. Dan agar Umar bin khatthab agar mengambil air satu ember untuk menyiram kencingnya.

Betapa Rasulullah adalah orang yang paling cerdas emosinya. Coba bayangkan seanainya Umar marah kepadanya, dan si badui belum selesai kencingnya, tentu dia akan berlari sambil kencing, maka air kencing akan tersebar dimana-mana. Dan tentunya itu tidak cukup disiram dengan satu ember saja bukan?

Kecerdasan emosional adalah Kemampuan memahami Perasaan org lain dan mampu memberi respon dengan baik terhadap kondisi psikologis orang lain.

Contoh kecerdasan emosional adalah kasus seorang berandalan yang membunuh 99 orang. Orang tersebut merasa sangat berdosa, dan merasa gelisah dalam hidupnya karena terbebani perasaan berdosa. Ia ingin sekali bertobat.

Maka iapun mendatangi salah seorang rahib atau pendeta untuk menanyakan nasibnya apakah Tuhan mau mengampuni dosa dosanya itu. Tetapi jawaban yang diterima justru membuatnya kalap. Sang Rahib mengatakan kepadanya bahwa terlalu besar dosa laki-laki tersebut, dan kayaknya Tuhan tidak akan berkenan memberi ampunan kepadanya.

Spontan sang rahib ditebas lehernya. Maka genaplah 100 orang dibunuhnya sang berandalan itu. Tetapi dia justru malah geliah dan terus mencari dimana ada orang yang bisa mengajarinya untuk bertaubat.

Akhirnya bertemu juga orang yang bijak yang mengatakan bahwa ampunan Allah lebih luas daripada langit dan bumi dengan syarat bertaubat sungguh. Si preman pembunuh itu disuruh tinggalkan kampung dimana selama ini dia tinggal karena kampung tersebut tidak kondusif dan menuju kampung yang baru yang memingkinkan dia bisa menjadi baik karena lingkungannya baik.

Pada akhirnya dia meninggal dalam perjalanan. Dan setelah terjadi perdebatan antara dua malaikat yang berselisih pendapat memengenai status laki-laki tersebut, apakan penghuni neraka atau surga. Singkat ceritera orang tersebut dimasukkan kedalam surga.

Dari kisah tadi mengandung dua tipologi ulama. Yang pertama tidak bijak dan tidak cerdas secara emosional. Dan yang kedua adalah yang memiliki kecerdasan emosional.

Cerdas spiritual.

Sebaik apapun kecerdasan emosi dan finansi tetapi tidak cerdas spiritual, maka melahirkan manusia manusia penipu. Melahirkan manusia-manusia korup. Berapa banyak orang pintar secara intektual, sosial dan keterampilan, pandai menggugah dan membangkitkan semangat, tetapi ujung -ujungnya menipu, korupsi, kolusi dan bejat moralnya.

_____
Naskah ini adalah ceramah Ust Hamim Thohari yang ditulis dan ditranskrip dari rekaman oleh Ketua Yayasan Hidayatullah Medan,  Ust Choirul Anam
Copyright © 2018 | Login