Tampilkan postingan dengan label Utama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Utama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Agustus 2017

Andil Besar Ummat Islam Bagi Kemerdekaan Indonesia



Pimpian Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Drs. Khoirul Anam mengatakan dalam Upacara Peringatan Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2017 di Lapangan Pondok Pesantren Hidayatullah bahwa kemerdekaan Indonesia  memiliki kaitan yang sangat erat dengan umat Islam. Pada masa perang merebut kemerdekaan, umat Islam di Indonesia memiliki peran besar.


Khoirul Anam  mengatakan, proses pergerakan perjuangan menuju kemerdekaan, terdapat cukup banyak kelompok masyarakat dengan nafas Islam.  Satu pergerakan yang membawa pergerakan perjuangan dari kecil, hingga menjadi pergerakan perjuangan yang besar.
"Pergerakan perjuangan tersebut  begitu menggeliat di kalangan kelompok masyarakat Muslim,  menunjukkan bahwa mereka menganut ajaran Islam, yang secara tegas melarang adanya praktik penjajahan dimuka bumi. Apalagi dalam aspek pendidikan, dimana Para Kiai di pesantren-pesantren saat itu menjadi Panglima Perang, menjadikan  pesantren sebagai basis pertahanan Indonesia dari serangan penjajah.

Ia menambahkan kalau kelompok-kelompok masyarakat bernafaskan Islam saat itu, seperti NU, Muhammadiyah dan Persis, menugaskan putra-putra untuk ikut berjuang. Maka  Ghazali secara tegas menyatakan kalau umat Muslim, khususnya di Indonesia, memiliki kaitan erat dan andil yang sangat besar, dalam mewujudkan bumi Indonesia terbebas dari penjajahan, serta meraih kemerdekaan. 
Umat Islam ikut andil dalam hal kemerdekaan, bahkan dari awal perjuangan. Jauh sebelum Indonesia merdeka. Perang Aceh adalah perang yang dipelopori Umat Islam. Kita mengenal Pangeran Diponegoro, adalah orang Islam. Kita kenal ada Imam Bonjol, dan sebagainya, meskipun masih bersifat local, tetapi mereka melawan penjajah.

Pada tahun 1941, barulah mulai didirikan suatu perkumpulan perjuangan Umat Islam, yang diberi nama Serikat Dagang Indonesia (SDI).
Yang paling menonjol, dengan adanya Sumpah Pemuda juga yang berperan aktif adalah ummat Islam. Panitia Sembilan yang merumuskan dasar negara semuanya adalah muslim, hanya satu yang non-muslim, yaitu A.A. Maramis. 
Jadi, kita sebagai Umat Islam jika bicara perjuangan merebut kemerdekaan bukan omong kosong. Sehingga, perlu kita teruskan.
Perjuangan untuk memperolah “Kemerdekaan Indonesia” tidaklah muncul begitu saja, namun melalui proses perjuangan panjang yang telah mendahuluinya. Kedatangan bangsa Eropa yang tidak bersahabat, mereka datang membawa bedil dan meriam, dengan pendekatan perang . Dengan semboyan Gospel-Gold-Glory ( penyebaran Bible/ Kristenisasi, mencari kekayaan/ eksploitasi, dan mencari daerah jajahan/ kejayaan ), mereka dengan politik Devide et Impera memecah belah masyarakat Indonesia, sedikit demi sedikit menguasai tlatah Indonesia ini. 
Perjuangan umat Islam melawan penjajahan kolonial Portugis, Belanda, dan Inggris dimulai dari kerajaan-kerajaan, dan kemudian diteruskan oleh perjuangan rakyat semesta yang dipimpin sebagian besar  para ulama. Jadi perjuangan ini dirintis sejak dari perlawanan kerajaan-kerajaan Islam, kemudian diteruskan dengan munculnya pergerakan sosial di daerah-daerah, yaitu perlawanan rakyat terhadap kolonial/penjajahan dan para agen-agennya, sampai dengan munculnya kesadaran bernegara yang merdeka.
Dalam perjuangan di kawasan Nusantara, khususnya Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, maka peranan Ajaran Islam dan  Umatnya punya arti yang sangat penting  dan tidak dapat dihapus dalam panggung sejarah Indonesia.
PERANAN ISLAM SEBAGAI AJARAN MELAWAN PENJAJAHAN
Ajaran Islam yang dipeluk oleh sebagaian besar rakyat Indonesia telah memberikan kontribusi besar, serta dorongan semangat, dan sikap mental dalam perjuangan kemerdekaan. Tertanamnya “RUHUL ISLAM” yang di dalamnya memuat antara lain :
1.      Jihad fi Sabilillah, telah memperkuat semangat rakyat untuk berjuang melawan penjajah . Dengan semangat Jihad, umat Islam melawan penjajah yang dzolim, merupakan perang suci, yang bila wafat maka kita akan syahid dan sorgamenjadi imbalannya.
2.     Dalam kitab suci Al-Qur’an terdapat  yang memerintahkan  Berperang melawan penjajah Dari Allah SWT.  “ Telah diijinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, sesungguhnya mereka itu dijajah/ditindas, maka Allah akan membela mereka ( yg diperangi dan ditindas )”. (Q.S. Al Haj : 39)
3.      Symbolbegrijpen (Simbol kalimat yang dapat menggerakkan rakyat), yaitu “TAKBIR” Allahu Akbar, selalu berkumandang dalam era perjuangan umat Islam di Indonesia.
4.     Semboyan ummat Islam  “Khubbul Wathon minal Iman”, cinta tanah air sebagian dari Iman, menjadikan semangat Partiotik bagi umat Islam dalam melawan penjajahan.
Dr. Douwwes Dekker ( Setyabudi Danudirdja) menyatakan bahwa :“Apabila Tidak ada semangat Islam di Indonesia, sudah lama kebangsaan  yang sebenarnya lenyap dari Indonesia” ( Aboebakar Atjeh: 1957, hlm.729).\Dengan demikian ajaran Islam yang sudah merakyat di Indonesia ini, punya peranan yang sangat penting, berjasa, dan tidak dapat diabaikan dalam perjuangan di Indonesia.

PERANAN UMAT ISLAM

1.      Perjuangan Kerajaan-Kerajaan Islam melawan Kolonial
Dimulai sejak awal masuknya bangsa barat dengan pendekatan kekuatan yang represif (bersenjata), maka karajaan-kerajaan Islam di kawasan Nusantra ini melakukan perlawanan. Perjuangan ini antara lain : Malaka melawan serangan Portugis (1511) diteruskan oleh Ternate di Maluku (Portugis berhasil dihalau sampai Timor Timur), kemudian Makasar melawan serangan Belanda(VOC), Banten melawan serangan Belanda (VOC), dan Mataram Islam juga melawan pusat kekuasaan Belanda(VOC) di Batavia (1628-1629) dan masih banyak lagi. Mereka gigih, dan Belanda pun kalangkabut, namun setelah ada politik “Devide Et Impera” (politik pecah belah), satu persatu kerajaan ini dapat dikuasai.
     Meskipun demikian semangat rakyat tidak pudar melawan penjajahan kolonial, maka  selanjutnya perjuangan melawan penjajahan diteruskan oleh rakyat dipimpin para Ulama.
2.      Perjuangan Rakyat Dipimpin oleh Para Ulama
Setelah kaum kolonial berhasil menguasai kerajaan-kerajaan di Indonesia, namun umat Islam bersama para ulamanya tidak berhenti melawan penjajahan. Muncullah  Gerakan Sosial merata di seluruh pelosok tanah air. Ulama sebagai Elite Agama Islam memimpin umat melawan penindasan dan kedzaliman penjajah. Sejak dari Aceh muncul perlawanan rakyat dipimpin oleh Tengku Cik Di Tiro, Teuku Umar, Cut Nya’ Dhien; di Sumatera Barat muncul Perang Paderi dipimpin oleh Imam Bonjol; Perlawanan KH.Hasan dari Luwu; Gerakan R. Gunawan dari Muara Tembesi Jambi; Gerakan 3 Haji di Dena Lombok; Gerakan H. Aling Kuning di Sambiliung Kal-Tim; Gerakan Muning di Banjarmasin; Gerakan Rifa’iyah di Pekalongan; Gerakan KH. Wasit dari Cilegon; Perlawanan KH. Jenal Ngarib dari Kudus; Perlawanan KH. Ahmad Darwis dari Kedu; Perlawanan Kyai Dermojoyo dari Nganjuk; dan juga perlawanan P. Diponegoro,  dan masih banyak lagi.
Dari perlawanan itu, sesungguhnya pihak Belanda sudah goyah kekuasaaanya, sebagai bukti tiga perlawanan : Rakyat Aceh, Sumatera Barat, dan Java Oorlog (Diponegoro) telah mengorbankan : 8000 tentara Belanda mati dan 20.000.000 Gulden kas kolonial habis. 
Oleh karena itu, mereka kemudian mencari jalan lain, yaitu mengubah politik kolonialnya dengan pendekatan “ Welfere Politiek” (Politik Kemakmuran) untuk menarik simpati rakyat jajahan. Namun, pada kenyataannya politik itu dijalankan dengan perang kebudayaan dan ideologi, terutama untuk memecah dan melemahkan potensi umat Islam Indonesia yang dianggapnya musuh utama pemerintah kolonial.
3.      Pergerakan Nasional di Indonesia
Sebelum memesuki era Pergerakan Nasional, pihak kolonial mencoba politik kemakmuran dan balasbudi. Munculah Politik Etische oleh Van Deventer; Politik Assosiasi  dan Politik De Islamisasi (Dutch Islamic Polecy) oleh Christiaan Snouck Hurgronje. Kelihatannya politik itu humanis untuk kesejahteraan rakyat, namun karena landasannya tetap kolonialisme, maka jadinya tetap eksploitatif dan menindas rakyat. Khusus politik De Islamisasai sangat merugikan umat Islam, karena :
Memecah umat Islam jadi dua dikotomi Abangan dan Putihan
Membenturkan Ulama dengan Pemuka Adat
Memperbanyak sekolah untuk memdidik anak-anak umat Islam agar terpisah dari kepercayaan pada agama Islamnya.
Menindas segenap gerakan politik yang berdasar Islam
Membikin masjid dan memberangkatkan haji gratis untuk meredam gerakan Islam.( Snouck Hurgronje, Islam in de Nederlansch Indie )

 Akibat dari politik kolonial di atas, maka  perjuangan melawan kolonial menjadi terpecah. Dalam Thesisnya, Endang Syaifuddin Anshari,MA. Mengatakan bahwa perjuangan di Indonesia terpecah jadi dua kelompok besar yaitu: Nasionalis Islami dan Nasionalis Sekuler. Kondisi inilah sampai sekarang masih tampak dalam dinamika perpolitikan kita.

Sebagai salah satu yang penting pelopor awal Pergerakan Nasional di Indonesia ialah umat Islam, yaitu pada tanggal 16 Oktober 1905, lahir Sarekat Dagang Islam (SDI) , yang kemudian th. 1912 berubah menjadi jadi Sarekat Islam (SI), sebagai gerakan Ekonomi dan politik.  
Pada Tanggl 18 November 1912 lahir Muhammadiyah sebagai gerakan Sosial Keagamaan, dari lembaga pendidikannya menghasilkan pimpinan bangsa Indonesia yang menentang Belanda,kemudian selanjutnya Jami’atul Khoir, Al Irsyad, Jong Islamieten Bond (1922), Persatuan Islam (Persis) th. 1920, Nahdlotul Ulama ( 1926 ), dan lainnya adalah dalam kategori nasionalis Islami, yang kesemuanya punya andil dalam melawan Belanda. 
Di samping itu lahirlah Boedi Oetomo, 20 Mei 1908, dan Indische Partiy (1912), Jong Java, Perhimpunan Indonesia (PI), PNI (1927) dan sebagainya, adalah dalam kategori nasionalis sekuler. ( Endang Syaifuddin Anshari, Piagam Jakarta: 22 Juni 1945. Thesis di Mac Gill University, Canada ).
Dalam menghadapi gerakan umat Islam, Belanda menggunakan “Christening Politiek” (dalam Pidato Ratu Belanda yang dibacakan oleh:Gub.Jend. Idenburg) namun tidak berhasil. Ketika gencarnya SI menuntut “Boemi Poetera Zelfbestuur” (Bangsa Indonesia berpemerintahan sendiri), dengan gerakan  Rapat Akbar dan pemogokan yang dilakukan hampir merata di pelosok kepulauan Indonesia, maka Belanda grogi dan segera bertindak. 
Untuk menghadapi gelombang gerakan umat Islam itu, maka upaya Politik Belanda  dengan mendatangkan VIRUS KOMUNIS, yaitu menggunakan tokoh-tokoh komunis Belanda Snevliet, Barandesteder, Ir. Baars, Brigsma dan Van Burink, didatangkan ke Indonesia untuk menghadapi Islam di Indonesia. Tokoh-tokoh komunis itu kemudian mengkader Semaun, Alimin Dharsono & Tan Malaka, disusupkan ke SI, terjadilah pembusukan dari dalam, pecahlah SI jadi dua: SI Putih yang asli, dan SI Merah yang komunis bergabung dengan ISDV ( Indische Socialis Democratische Vereeniging ) menjadi PKI (23 Mei 1920). Mulai dari sinilah maka umat Islam berhadapan terus dengan komunis. ( A.K. Pringgodigdo, Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia. dan A. Adaby Darban, Peranserta Islam dalam Perjuangan Indonesia. ).
Pada tahun 1937 organisasi-organisasi Islam bersatu membentuk MIAI ( Majlis Islam A’la Indonesia ), diprakarsai oleh Muhammadiyah, NU, Persis, Alwasliyah dan lainnya. Pada zaman Jepang MIAI diubah namanya jadi MASJUMI ( Majlis Syura Muslimin Indonesia ), dan memiliki pasukan yang bernama Hizbullah Sabilillah, sebagai modal perjuangan bersenjata di kemuidian hari.
Pada saat mempersiapkan kemerdekaan dalam BPUPKI disidangkan konsep dasar negara, muncul konsep Moh. Yamin, Soepomo, dan Soekarno yang telah diajukan, namun sidang belum menerima, kemudian dibentuklah panitia Ad Hock (9 anggota), yang memutuskan Rumusan Piagam Djakarta 22 Juni 1945 ( Djakarta Charter ). Rumusan itu melalui debat yang panjang akhirnya disetujui pada tanggal 16 Juli 1945. (Komentar Soekarno, bahwa Djakarta Charter merupakan konsesnsus nasional persatuan antara Kaum Kebangsaan dan   Islam). 
Namun, pada tanggal 18 Agustus 1845, keputusan itu dianulir atas usul Opsir Jepang mengatasnamakan utusan dari Indonesia Timur, yang menyatakan bahwa bila kalimat “ Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syareat Islam bagi pemeluknya” tidak diubah, maka Indonesia Timur akan memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia . Dengan demikian Hatta melobi  para ulama agar dapat mengubah Piagam Djakarta demi persatuan Nasional RI. 
Pada awalnya para ulama tidak setuju, sebab itu sudah keputusan BPUPKI sebagai konsensus nasional, namun demi toleransi dan menjaga negara RI dari perpecahan, akhirnya disepakati dengan kalimat : “ Ketuhanan Yang Maha Esa . Peranan Ki Bagus Hadikusumo menempatkan Yang Maha Esa sebagai Tauhid Rakyat Indonesia .( Endang Syaifuddin Anshari, Piagam Jakarta.)
4.      Peran Umat Islam dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
Dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, umat Islam punya peranan penting, yaitu : Pertama, secara pisik Umat Islam dengan Lasykar Hisbullah-Sabilillah, kemudian diteruskan Asykar Perang Sabil (APS) dan lasykar Islam lainnya di daerah, gigih berjuang membantu TKR (TNI) untuk mempertahankan NKRI dengan perang gerilnyanya melawan Sekutu-NICA (Netherland Indie Civil Administration, Belanda) yang akan kembali berkuasa di Indonesia. 
Secara phisik pula Lasykar Hisbullah-Sabilillah yang kemudian diteruskan oleh Markas Ulama Asykar Perang Sabil (APS) bersama pasukan TNI dari Siliwangi melawan Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) 18 September 1948 ( dipimpin oleh Muso dan Amir Syarifuddin ), yang akan menghancurkan NKRI dan akan membentuk Pemerintahan Komunis Indonesia, menjadi bagian atau satelit dari Commitern Komunis Internasional yang berpusat di Moskow,Rusia. 
Pemberontakan PKI 1948 ini berjalan secara biadab, membantai para ulama dan santri, membantai kaum nasionalis, membantai pamongpraja, dapat digambarkan ada suatu gedung untuk pembantaian yang darahnya menggenang tingginya sejengkal. Dengan adanya kerjasama antara kelasykaran umat Islam, kelasykaran kaum nasionalis, dengan TNI berhasil menghancurkan kekejaman dan kebiadaban Pemberontakan PKI 1948.
Setelah kemerdekaan dan adanya maklumat Wakil Presiden 1946, bangsa Indonesia dipersilahkan mendirikan partai politik. Dalam hal ini pada awalnya aspirasi politik umat Islam ditampung dalam satu wadah, meneruskan namanya yaitu Majelis Syura Muslimin Indonesia ( Masyumi ), dalam ikrar persatuan umat Islam ”Panca Cita”.
Kedua, dalam proses perjuangan diplomasi ada beberapa perundingan antara lain Linggarjati, Renfille, Roem-Royen, dan KMB. Pada perundingan Renfille wilayah NKRI menjadi sempit, dan berdirilah negara-negara bagian lain sebagai negara boneka Belanda, dan lebih parah lagi Yogyakarta sebagai Ibukota NKRI diduduki Belanda. Secara spontan dan bertanggung jawab Mr.Syafruddin Prawiranegara (Masyumi) mendirikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) 19 Desember 1948 di Sumatera Barat ( Mulai tahun 2006  dijadikan hari peringatan Bela Negara ). 
Adanya perlawanan gerilya bangsa Indonesia yang tiada hentinya ( termasuk perebutan Jogjakarta dari tangan Belanda tanggal 1 Maret 1948), maka PBB meminta genjatan senjata dan diadakan perundingan lagi, yaitu Roem – Royen. Dalam perundingan itu deplomasi Mr.Moh.Roem  berhasil menggiring pihak Belanda untuk antara lain : 1.Mengembalikan Ibukota RI Yogyakarta;2.Pembebasan Soekarno-Hatta dan para mentri yang ditawan Belanda; 3. Menyelenggarakan Konfrensi Meja Bundar (KMB), dan 4. Belanda mengakui keberadaan RI.
Pada KMB Belanda mengakui eksistensi Republik Indonesia Serikat, yang masih memiliki negara-negara bagian (boneka) dibawah pengaruh Belanda. Presiden Soekarno jadi Presiden RIS, sedangkan Mr. Assa’at jadi Presiden Republik Indonesia ( RI ) kedua, bagian dari RIS. 
Dalam rangka menyatukan Indonesia kembali, tokoh umat Islam Muhammad Natsir (Masyumi) mempelopori “MOSI INTEGRAL NATSIR yang isinya untuk KEMBALI KE BENTUK NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI)”. 
Mosi integral Natsir ini mendapat dukungan sebagain besar anggota kabinet dan Presiden Soekarno, meskipun Anak Agung, Gede Agung dan Sultan Hamid II tidak mau ikut tanda tangan mendukung, akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1950, Presiden Soekarno berdasarkan mosi itu memberanikan diri menyatakan kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia.
5. Umat Islam di Era Mencari Bentuk Demokrasi Indonesia
Undang-undang Dasar 1945 menggambarkan bahwa NKRI adalah negara demokrasi, namun formulasi demokrasi yang bagaimana bentuknya masih dalam pencarian. Apakah Demokrasi Liberal, apakah Demokrasi Sosialis, ataukah Demokrasi Theokrasi ?. 
Pada masa Kabinet Burhanuddin Harahap ( dari Masyumi ) Indonesia mengadakan pemilihan umum pertama di tahun 1955, diikuti hampir + 100 partai, disaksikann oleh PBB. Dalam pemilu itu muncul 4 kekuatan partai besar yaitu rangking pertama PNI dan Masyumi suaranya berimbang, disusul NU, kemudian PKI. Hasil dari Pemilu itu adanya Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan kemudian pemilu kedua menghasilkan Konstituante (pembuat Konstitusi/ UUD). 
Dalam Konstituante memang ditawarkan untuk menjaring  aspirasi rakyat dalam menentukan UUD baru yang aspiratitf bagi rakyat Indonesia. Berbagai golongan masyarakat yang diwakili oleh partainya menyampaikan usulannya, sehingga mengerucut pada UUD pertama 1945 namun pada Preambulenya ada yang mengacu keputusan Sidang BPUPKI 16 Juli 1945 yaitu Piagam Djakarta , dan mengacu dari keputusan PPKI 18 Agustus 1945, dengan suara berimbang, namun tidak dapat memenuhi 75% suara untuk dapat memutuskannya, sehingga selalu tidak dapat diputuskan. Aklhirnya pihak Militer (A.H. Nasution ) membuat konsep Dekrit Presiden, kemudian diterima oleh Bung Karno, maka pada tanggal 5 Juli 1959 Dekrit Presiden itu dideklarasikan, isinya antara lain :
1. Pembubaran Konstituante; 2. Kembali kepada UUD 1945, dan Piagam Djakarta sebagai yang menjiwai UUD 1945 ; 3. Bentuk Negara Demokrasi Terpimpin.
6. Umat Islam di Era Demokrasi Terpimpin
Munculnya Dekrit Presiden ini untuk sementara dapat meredam perbedaan pendapat dalam konstituante, namun juga berdampak menjadi awalnya bentuk pelaksanaan pemerintahan yang otoriter, kekuasaan tunggal di tangan presiden. Hal ini terbukti, ketika Presiden Soekarno mengajukan RAPBN ke DPR hasil Pemili 1955, oleh karena kondisi negara belum mampu, maka ditolak DPR dan diminta untuk diperbaiki, namun dengan pendekatan kekuasaan  Bung Karno membubarkan DPR hasil pemilu, dan kemudian dengan kekuasaanya pula presiden Soekarno menyusun DPR baru atas tunjukannya dengan diberi nama DPRGR. Tokoh-tokoh umat Islam menentang sikap otoriter ini, namun kemudian ditangkapi dan dipenjara. 
Dari beberapa kasus yang menentang otoriter kekuasaan pada waktu itu, ditangkapilah tokoh-tokoh Islam antara lain Mr.Prawoto Mangkusasmito ; Mr. Mohammad Roem; KH Muhammad Natsir; KH E.Z. Muttakin; Mr. Kasman Singodimejo; dan Hamka dan lainnya , mereka disiksa , dan tidak diproses hukum melalui pengadilan.
Dari tahun 1960 sampai 1965 situasi negara dalam keadaan tegang , akibat adanya iklim antagonis dalam masyarakat. Polarisasi NASionalis + Agama + KOMunis (NASAKOM) yang dicetuskan pemerintah menjadi kekuatan yang saling benturan. Pendekatan kaum Komunis (PKI) pada pemerintah banyak digunakan untuk menghantam umat Islam dan gerakan Islam. Muncul istilah Ganyang Kontra Revolusi, Ganyang 7 Setan desa ( salah satunya haji ). PKI mengadakan Aksi Sepihak, yaitu menyerobot dan menduduki tanah milik umat Islam, milik pesantren dsb. untuk dibagikan pada para pendukungnya, sedangkan bila terjadi perlawanan diadakan teror dan sampai pembunuhan. Setelah PKI merasa kuat dan siap untuk mengambil alih kekuasaan, menyiapkan angkatan ke 5 Buruh Tani dipersenjatai, import senjata jenis Tschung dari RRChina, banyak mengadakan pelatihan militer di beberapa daerah, dan mengadakan aksi sepihak menduduki tanah-tanah perusahaan dan tanah masyarakat, serta mengadakan teror dan pembantaian terhadap lawan politiknya. Menyerang tempat-tempat Ibadah menginjak-injak kitab suci Al Qur’an, seperti peristiwa Kanigoro, Bandar Betsy, menteror dan menangkapi seniman Manikebu ( Islam ) lawannya Lekra (PKI), Puncaknya meletuslah Pemberontakan G.30.S. / PKI. Digerakkan oleh Dewan Revolusi yang berisi tokoh-tokoh PKI ( DN Aidit, Sam Qomaruzaman, Nyoto, Nyono, Istiajid, dan sebagainya ) sebagai pengendali gerakannya  ( Surat Perintah Comite Central/ CC PKI No. 13/ P1 / 65, tanggal 28 Septembar 1965, isinya Perintah mendirikan Dewan Revolusi Daerah ). Pemberontakan G.30.S. /PKI telah membantai kalangan ABRI, para Santri dan Kyai di pedesaan, pemuka agama lainnya termasuk di Bali, mereka telah disediakan sumur-sumur untuk penguburannya.
Ummat Islam membentuk Kogalam ( Komando Kesiapsiagaan Umat Islam ) dan GEMUIS ( Genarasi Muda Islam ),  Organisasi-organisasi Islam mendirikan pasukan Banser, Kokam, Brigade PII, Korba HMI, dan sebagainya, sebagai kekuatan untuk menghadapi pemberontakan PKI 1965 itu. 
Gerakan pemberontakan G.30.S./PKI di pusat maupun daerah-daerah berhasil ditumpas, sehingga selamatlah negara Republik Indonesia dari usaha utuk menjadikan Indonesia menjadi negara komunis.  
Situasi negara mulai ada perubahan, masyarakat menyadari akan bahaya laten komunis, dan membuka lembaran baru dalam kehidupan negara yang memiliki nuansa keagamaan atau religiusitas yang memang sebagai jati diri Bangsa Indonesia.  Dengan adanya  Ketetapan MPRS No. XXV/ 1966, Partai Komunis Indonesia (PKI) dan orderbow-nya dibubarkan, ajaran Komunisme – Marxistme dilarang  diseluruh Indonesia.
7. Umat Islam di Era Orde Baru
Pada awal kebangkitan Orde Baru adalah dalam rangka kembali kepada UUD 1945 dan Pancasila secara murni dan konsekwen, memperbaiki stuktur birokrasi dan demokrasi bersih dan sehat. Pada awalnya umat Islam memberikan dukungan ,  dan memang umat Islam untuk sementara merupakan eksponen dan dijadikan tumpuan.  
Namun pada proses perjalanan sejarah selanjutnya eksponen umat Islam mulai ditinggal, dan bahkan gerakan umat Islam mulai dimandulkan, bahkan berusaha untuk dibersihkan.
Gerakan politik Islam dilikwidasi sedikit demi sedikit posisinya bahkan dimandulkan, mulai Pemilu 1971 yang penuh rekayasa dan ”Bolduser”, menekan umat Islam dan politisi lain untuk memenangkan Golkar. Maka berhasillah menguatkan posisi kekuasaan Soeharto, yang selanjutnya akan kembali menjadi penguasa tunggal yang otoriter sampai tahun 1998.  
Pemerintahan Orde Baru kemudian banyak meninggalkan potensi umat Islam dan justru merangkul kekuatan minoritas di Indonesia yang ”diridloi oleh Amerika” serta sekutunya. Sebagai puncaknya kebijakan terhadap umat Islam adalah dilarangnya partai dan organisasi massa memakai asas Islam. Kebijakan ini sama dengan yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda atas nasehat Snouck Hurgronje untuk membatasi gerakan umat Islam di Indonesia. Kebijakan pemerintah Orde baru terhadap politik Islam itu berdampak antara lain :
Pertama, peranan politik umat Islam yang mengusung cita-cita Islam tidak mendapat tempat yang layak, bahkan dikerdilkan dengan cara rekayasa politik. Dengan menggunakan berbagai macam skenario politik untuk menyudutkan dan  memberi  gambaran citra negatif bagi perjuangan umat Islam Indonesia. 
Sebagai contoh, dimunculkanlah skenario Komando Jihad, Teror Warman, dan sebagainya, yang kesemuanya itu memancing umat Islam untuk bertindak kekerasan, kemudian didlolimi. Dimunculkannya peristiwa-peristiwa penuh rekayasa seperti, Tanjung Priuk ( 600 umat Islam dibantai ); Talangsari (pembantaian kyai dan sastri serta penduduk desa di Lampung ); pembajakan Pesawat Woyla, dan masih banyak lagi peristiwa di daerah-daerah yang menjadikan korbannya itu umat Islam. Dalam bidang politik formal kekuatan riil umat Islam  terus ditekan, dan dengan penuh rekayasa dikerdilkan, sehingga partai politik di DPR dan MPR tidak dapat berkutik ( dibikin kecil ).
Kedua, di kalangan  umat Islam mencari jalan lain ( tidak melalui politik praktis ), yaitu lebih menggiatkan gerakan Dakwah – Sosial – Pendidikan dan Kebudayaan. Munculah gerakan Dakwah di berbagai lapisan masyarakat dan pelatihan-pelatihan secara intens dalam memahami Islam dengan Penanaman Nilai dasar Islam (PNDI), lahirlah Lembaga Dakwah Kampus ( LDK ) seperti Jama’ah Salman (ITB), Jamaah Shalahuddin (UGM), dan sebagainya. 
Gerakan Sosial meningkatkan kepedulian pada kaum fakir-miskin-yatim piatu dan kaum mutadzafin, munculnya lembaga-lembaga sosial dan pendidikan baru di kalangan umat Islam. Dalam bidang pendidikan berkembang dengan lahirnya lembaga-lembaga pendidikan baru termasuk maraknya pertumbuhan perguruan tinggi Islam di Indonesia, dan adanya peningkatan penerbitan buku-buku dan media Islam lainnya. 
Lahirlah lembaga-lembaga Seni-Budaya Islam dengan karya-karyanya, lebih maraknya pemakian busana muslim dan muslimah ( pemakian Jilbab diterima olah masyarakat dan banyak diikuti ).
Pemerintah Orde Baru yang selalu phobi pada gerakan Islam, kemudian membuat kebijakan antara lain pembatasan gerakan dakwah, dengan mewajibkan izin bagi para mubaligh atau da’i dan dilakukan  diseleksi oleh pemerintah dengan wajib menggunakan SIM ( Surat Ijin Mubaligh ), dan pengawasan ketat, serta kemudian juga melarang kegiatan dakwah di kampus-kampus. 
Pemerintah Orde baru juga melarang pemakaian Jilbab di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, di lembaga pemerintahan, dan mencitrakan bahwa pemakaian Jilbab adalah kaum Islam Radikal. Meskipun peraturan ini dilakukan dengan pengawasan ketat dan represif, namun arus deras dari masyarakat Islam yang mendukung lebih kuat, sehingga pemerintah Orde Baru tidak mampu membendungnya.
Dalam rangka membendung arus kesadaran ber-Islam yang lebih intens ini, pemerintah Orde Baru menggunakan berbagai macam skenario politik untuk menjebak aktivis-aktivis umat Islam agar berbuat radikal, sehingga citra Islam terus negatif di Indonesia. Meski demikian hanya sebagian kecil yang dapat terjebak, bagi yang sadar akan adanya skenario ini lebih baik diam dan menekuni gerakan dakwah, sosial,pendidikan dan kebudayaan..
Adanya pembukaan hubungan dengan luar-negeri ( khususnya Amerika-Eropa-dan Jepang ), Orde Baru banyak menerima ”Bantuan” alias Hutang. Selain itu pula pemerintah juga mengontrakkan sumber minyak dan tambang lainnya termasuk Freeport, sehingga pemerintah Orde Baru banyak mengantongi hasilnya. Kelihatannya dapat meningkatkan kemakmuran dan penghasilan negara, namun ternyata hanya semu.
Pemerintah Orde Baru yang merasa tertolong dengan modal asing itu, kemudian banyak meninggalkan umat Islam ( sebagai Ekonomi golongan menengah kebawah yang realistis penyangga perekonomian Indonesia ).
Umat Islam dalam bidang ekonomi menduduki  golongan pengusaha menengah ke bawah. Sentra-sentra perekonomian umat Islam memiliki jaringan sampai pada ekonomi kerakyatan di lapisan bawah ( seperti Ekonomi Pertanian; Tekstil; Batik; Garmen; sampai ke Industri Kerajinan Rakyat atau rumah tangga ). 
Pada zaman pemerintahan Orde Baru yang banyak bergantung pada Modal Asing, lebih berpihak pada golongan ekonomi Konglomerat, sehingga sebagian  pinjaman modal asing itu dialirkan pada Konglomerat. Akibatnya,Golongan Konglomerat ini tangan-tangan guritanya sampai pada lapisan ekonomi menengah kebawah, sehingga sistem kapitalistik-monopoli berakibat mematikan golongan ekonomi menengah ke bawah yang sebagian besar adalah umat Islam. ( Menurut Richard Rabison,The Rise Capitalism in Indonesia. ( disertasi ), bahwa Golongan Ekonomi Menengah ke Bawah bagi Indonesia adalah pilar ekonomi yang nyata dan perlu diperkuat, sedangkan Golongan Ekonomi Konglomerat yang mengandalkan Modal Asing berupa pinjaman itu merupakan tiang penyangga yang semu, suatu saat nanti gampang melarikan modalnya ke luar negri, sehingga akan menggoyahkan perekonomian Indonesia .
Pada akhir hayat pemerintahan Orde Baru, ditengarai setelah pihak asing kepercayaannya mulai pudar,kemudian pembatasan kucuran dana pinjaman asing, dan masyarakat mulai tidak respek dan mengecam terhadap permainan politik pemerintah Orde Baru, maka kekdudukannya menjadi lemah. Pada kondisi lemah ini, pemerintah Orde Baru kelihatannya mulai mendekati umat Islam melalui tokoh-tokohnya. Namun, cara-cara pendekatan itu sudah tidak populer lagi, akhirnya terjadi arus deras untuk diadakan Reformasi. Arus deras Reformasi sebagai lokomotif (salah satunya Amien Rais) dan pendukung terbesarnya adalah umat Islam, berhasil memberhentikan Pemerintahan Orde baru, pada tanggal 21 Mei 1998, Soeharto berhenti jadi presiden, dan masa transisi untuk sementara digantikan oleh BJ Habibie sampai dengan pemilihan umum Era Reformasi.                                         
PERAN UMAT ISLAM DI AWAL REFORMASI
Masyarakat Indonesia mengalami titik kulminasi jenuh pada pemerintahan Orde Baru (yang sudah menjadi sama sengan Orde Lama). Cara-cara untuk mempertahankan kekuasaan dengan menggunakan kendaraan GOLKAR yang dengan rekayasa skenariotip selalu memenangkan pemilu, sehingga kekuasaan Suharto dan Kroninya diusahakan terus untuk dipertahankan. Harmoko selaku ketua Golkar yang terakhir mendorong Soeharto untuk maju lagi jadi presiden di tahun 1997, mengklaim dengan mengatakan rakyat Indonesia masih menginginkan kekuasaan Suharto.
Pada kenyataanya lain, masyarakat luas sudah mengiginkan perubahan kepemimpinan nasional, bahkan sebagian di kalangan ABRI pun  dan dunia internasional yang dulu sebagai pendukung dana dan politik Orde Baru, mulai kendor dan meninggalkan dukungannya. Dalam kondisi seperti ini, Soeharto mendekati umat Islam melalui tokoh-tokohnya, namun tidak berhasil, sehingga Suharto terpaksa ”Berhenti” dari jabatannya sebagai presiden, dan digantikan oleh wakilnya yaitu BJ Habibie.
Pada era pemerintahan BJ Habibie yang hanya lebih kurang 1 tahun, berhasil menekan inflasi yang sebelumnya nilai rupiah terpuruk hingga Rp.15.000,- setiap satu dolarnya, dapat ditekan menjadi Rp. 6.000,- setiap dolar AS. Namun, adanya euforia politik yang terus bergelora, akhirnya pada sidang MPR peratanggunganjawabnya tidak diterima, maka BJ. Habibie tidak mencalonkan diri menjadi presiden.
Pada awal Reformasi umat Islam pun terimbas adanya euforia politik, sehingga semua rame-rame mendirikan partai, maka lahirlah Partai Kebangkitan Bangsa ( PKB ); Partai Amanat Nasional ( PAN ) ( meskipun tidak berdasarkan Islam, namun basis pendukungnya Islam ), Partai Bulan Bintang (PBB); Partai Keadilan (PK); Partai MASYUMI BARU; Partai ABULYATAMA; Partai Syarekat Islam Indonesia (PSII) ( (semuanya berdasarkan Islam dan basis pendukungnyapun Islam), dan sebagainya ditambah Partai Persatuan Pembagunan (PPP) yang juga masih eksis dan punya masa.
Pada Pemilu 1999 PDI P berhasil unggul disusul Golkar, dan baru partai-partai Islam dan partai yang basis pendukungnya Islam ( bila partai-partai Islam dan yang berbasis  Islam bersatu, insya Allah akan menang dalam pemilu. Namun, kanyataannya partai-partai Islam itu belum dapat bersatu sampai kini ).
Meskipun PDI P unggul dalam pemilu, namun dalam pemilihan presiden tidak berhasil, MPR memilih suara terbanyak Abdurrahman Wahid, sedangkan wakilnya baru Megawati. Abdurrahman wahid tidak mulus jadi presiden RI, dengan adanya berbagai persoalan akhirnya diberhentikan oleh MPR, kemudian digantikan oleh Megawati dengan mengambil wakil Hamzah Haz dari PPP.
Pada Pemilu 2004, partai-partai Islam  yang berbasiskan Islam pun belum dapat meraih kemenangan. Pada pemilu ini Golkar pewaris Orde Baru berhasil menang, sedangkan dalam pemilihan presiden pun dimenangkan oleh SBY dan Jusuf Kalla ( dari Partai Demokrat dan Golkar ), sedangkan calon-calon lain yang jelas dari tokoh-tokoh umat Islam belum berhasil menang ( Amien Rais; Hasyim Muzadi; dan Sholahuddin Wahid ).  Dengan keadaan seperti inilah sudah semestinya umat Islam perlu mukhasabah dan menyusun langkah-langlah yang lebih baik untuk masa depannya.
Selain politik, juga terjadi euforia liberalisme yang semakin menjadi, pornografi dan pornoaksi, serta banci merajalela dengan bebas melalui mass media, sehingga menjadi petaka rusaknya moral bangsa. Mereka menggunakan senjata HAM untuk kebebasannya. RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi tak kunjung diputuskan, karena terkendala para pendukung gerakan perusak moral itu. Perjuangan melawan KKN ( Korupsi- Kolusi – Nepotisme ) berjalan lamban, stagnan, karena tidak ada ketegasan dari pemerintah, sehingga kasus BLBI yang memakan uang rakyat + 90 Trilyun pun belum dituntaskan. Komunisme sepertinya  berusaha hidup kembali, mereka juga menggunakan senjata HAM untuk berlindung. Menghadapi komunisme pun tidak ada tindakan tegas dari pemerintah.
Kondisi ekonomi masyarakat masih ”njomplang”, yang kaya semakin kaya, yang miskin bertambah miskin. Masyarakat lapisan menengah ke bawah hidupnya semakin sulit, dan perlu diupayakan kesejahteraannya secara serius. Namun,ada hal yang dapat jadi hiburan, yaitu berkembangnya Perekonomian Syari’ah yang diharapkan dapat menjadi alternatif untuk dapat mengobati ketimpangan kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia. Sudah waktunya Ekonomi Syari’ah berpihak pada masyarakat dhuafa’, untuk ikut berusaha mengentaskan kemiskinan di Indonesia.

Selasa, 18 Oktober 2016

Orang Beriman Tidak Malas Apalagi untuk Shalat Berjamaah 5 Waktu di Masjid

Iman itu menggerakkan. Karena itu, kata Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Ustadz Nashirul Haq dalam kajian Halaqoh Muharram di Medan, Sumatera Utara, Sabtu (15/10/2016), orang yang beriman tak mungkin malas.

Kata Allah Subhanahu Wata’ala, jelas Nashirul lagi, sifat malas adalah ciri-ciri orang munafik. Orang beriman jelas bukan orang munafik.

“Orang beriman tak mungkin malas berhalaqoh. Tak mungkin pula malas shalat berjamaah,” kata Nashirul di hadapan 260-an peserta halaqoh.

Namun kadang-kadang muncul sifat futur (loyo) pada diri kita. Di sisi lain, godaan setan begitu kuat. Setan mengganggu kita lewat dua pintu, yakni subhat dan syahwat.

Lalu bagaimana mengatasinya?

Pertama, kata beliau, tumbuhkan irodah (keinginan yang kuat) pada diri kita untuk beribah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Kedua, berdekat-dekatanlah kepada ulama dan orang-orang baik.

“Karena itulah seluruh kader Hidayatullah harus berhalaqoh. Mudah-mudahan dengan berhalaqoh, setan sulit masuk,” jelas Nashirul.

Halaqoh Muharram
Halaqoh Muharram yang berlangsung selama dua hari, 15 dan 16 Oktober, adalah kali kedua. Yang pertama digelar di Bengkulu pada 2014 lalu.

Halaqoh Muharram ini diikuti oleh tujuh Dewan Pengurus Wilayah se-Sumatera. Selain Nashirul Haq, pemateri yang lain yang diminta mengisi tausiyah adalah Ustadz Aqib Junaid (anggota Dewan Muzakarah Hidayatullah), dan Ustadz Hamim Thohari, pembina pesantren Hidayatullah Medan, Sumatera Utara.

Pembukaan acara Halaqoh Muharram digelar pada Sabtu pagi (15/10/2016), dibuka oleh Asisten 3 Gubernur Sumatera Utara, Oka Zulkarnaen MSi. Dalam acara pembukaan tersebut diserahkan 12 unit motor kepada dai-dai se-Sumatera Utara oleh Baitul Mal Hidayatullah. */ Mahladi (Hidcom)

Selasa, 20 September 2016

Serunya Manasik Haji MIS Luqman Al-Hakim



Pada Tanggal 13 Dzul Hijjah 1437 H. bertepatan dengan 15 September 2016 MIS Luqman Al-Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa menggelar kegiatan manasik Haji.

Kegiatan diikuti oleh para siswa siswi serta para oranhgtua siswa. Suasana sangat meriha dan gegap gempita dengan suara talbiyah. Akhir kegiatan diramaikan dengan potong hewan kurban daro orangtua santri dan para guru.

Manfaat Kegiatan : 

Perkembangan agama pada masa anak terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak kecil, utamanya dalam keluarga, dalam sekolah dan dalam lingkungan masyarakat. Semakin banyak pengalaman yang bersifat agamis (sesuai dengan ajaran agama) dan semakin banyak unsur agama ditanaamkan, maka dapat diharapkan sikap, tindakan, perilaku dan cara anak menghadapi hidup nantinya akan sesuai dengan ajaran agama. Setiap pengalaman yang dilalui anak dalam kehidupannya sehari-hari, baik melalui penglihatan, pendengaran, maupun perlakuan yang diterimanya, akan ikut menentukan pembinaan pribadinya.
 
Idealnya setiap orang tua dan pendidik (guru) ingin membina  anak agar menjadi manusia yang baik, sehat fisik dan berkepribadian kuat,  memiliki sikap mental yang sehat serta akhlak yang terpuji. Semuanya ini dapat diusahakan melaui pendidikan baik formil maupun informal.

Sayangnya usaha itu saat ini semakin bertambah berat pelaksanaannya justru dengan semakin canggihnya perkembangan media massa di masyarakat. Ada semacam peperangan antara idealisme pendidikan dan pemasaran sarana kenikmatan hidup. Sebagai contoh begitu banyak acara hiburan dan informasi yang disodorkan media Televisi yang sesungguhnya tidak cocok untuk anak-anak dengan jam tayang yang tidak tepat dari sisi pendidikan.

Selain itu ada beberapa acara yang cocok untuk anak-anak tetapi jam tayangnya justru di saat anak-anak biasanya harus siap berangkat sekolah atau siap ngaji ke surau atau TPQ/TPA, atau sedang belajar, bahkan ada yang diputar di larut malam, padahal isinya sangat bagus untuk menambah pengetahuan dan kebijaksanaan.

    Ada acara-acara yang begitu menggoda karena dikemas dengan cara yang sangat menarik, yang bahkan bagi banyak orang tua (ibu) menjadi hiburan utama (misal : serial Telenovela). Orang tua (ibu) menjadi tidak mampu memilih, antara harus memberi pelajaran pada anak, menemani membuat PR, mengajar ngaji Qur’an, ataukah meneruskan menikmatinya karena takut ketinggalan cerita. Sejujurnya bila kita hitung-hitung, sebenarnya sangat sedikit waktu untuk melaksanakan ibadah wajib dan sunah (sholat dan tadarus Qur’an), tetapi kita sangat tahan memelototi TV selama beberapa jam.
    Bertambah majunya ilmu pengetahuan dan teknologi tidak selalu memberikan kontribusi yang positif bagi pembentukan kepribadian. Beberapa penelitian sosial-psikologis tentang berita dan acara tayangan di media massa menunjukkan, disamping manfaatnya yang tinggi dan positif bagi perluasan dan perkembangan pengetahuan tetapi juga diikuti oleh kenyataan betapa besar dan luas dampak negatifnya. Dampak negatif itu meliputi meningkatnya patologi sosial di masyarakat, seperti pornografi, pornoaksi, kriminalitas, kenakalan remaja, penyalah gunaan obat, dan sebagainya. Banyak kasus perkosaan dan kelainan seksual atau perilaku agresif lain yang dilakukan oleh anak-anak didahului oleh membaca berita dan menonton tayangan-tayangan tertentu yang menimbulkan gairah tinggi pada pelakunya. Hal ini sungguh harus menjadi keprihatinan bersama.

    Jiwa anak bagaikan sebuah camera yang siap untuk merekam segala fenomena yang ada di sekitarnya, dan tidak semua anak mampu melakukan seleksi, editing, croping ataupun deleting terhadap informasi yang masuk. Akibatnya potensi-potensi negatif yang dimiliki anak dapat menjadi lebih dominan dan aktual dibanding potensinya yang positif. Selain itu tidak semua hal ada pada jangkauan kendali kita, banyak hal yang sepertinya memaksa kita untuk menelannya begitu saja. Hal ini perlu menjadi kewaspadaan bagi kita semua, utamanya ketika kita bersemangat untuk membentuk generasi yang kuat yang akan kita tinggalkan nantinya.

LATIHAN MANASIK HAJI ANAK TK,  PERLUKAH ?

    Orang tua dan Guru (khususnya guru Agama) mempunyai tugas yang cukup berat, karena disamping mengajarkan pengetahuan umum dan pengetahuan agama juga harus membina pribadi anak.
    Perkembangan agama pada anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya,  terutama sejak pada masa-masa pertumbuhan awal dalam kandungan, diteruskan pada usianya yang pertama yaitu masa anak dari umur 0 hingga 12 tahun. Seorang anak yang pada masa-masa emas tersebut tidak mendapatkan didikan agama dan tidak pula mempunyai pengalaman keagamaan, maka dapat diramalkan nanti setelah dewasa akan cenderung kepada sikap negatif terhadap agama, pada tatanan kehidupan bahkan pada dirinya sendiri.
    Kalau kita ingat dan memahami bahwa tatkala  Nabi Ibrahim As selesai membangun Ka’bah, ia memperoleh perintah langsung dari Allah untuk memproklamasikan Haji pada seluruh umat di dunia (Tafsir atas Surah Al- Hajj Ayat 27):

    Dan proklamasikanlah haji itu kepada seluruh manusia niscaya mereka akan datang kepadamu dengan  berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru (dunia) yang jauh (QS. 22: 27)
Ibrahim As lalu naik ke Jabal (Gunung) Abi Qubais dan menyeru dengan suara keras.
    ” Wahai manusia! Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kamu agar berhaji ke rumah ini (Bayt Allah), niscaya Allah akan memberikan pahala surga dan menjauhkan kamu dari api neraka”.
Saat itu seluruh manusia menjawab, baik yang ada di dalam sulbi laki-laki maupun yang ada dalam rahim perempuan dengan jawaban :
“Labbaykallahumma labbayk” (Aku siap melaksanakan dan memenuhi perintah-Mu Ya Allah).
    Dari penuturan di atas tampak bahwa yang menjawab seruan Ibrahim As bukan hanya manusia dewasa tetapi juga para calon manusia yang masih dalam sulbi laki-laki (masih menjadi sperma) yang nantinya bakal menjadi manusia. Ini menunjukkan bahwa manusia wajib memahami masalah haji yang terkenal dengan manasik, termasuk juga hikmah dan hakikat haji sebagai konsekuensi atas jawabannya ketika masih di alam azali. Untuk memahami pemberitahuan atau proklamasi tersebut  membutuhkan pengakuan (ilmu, iman dan amal).

    Hukum memahami manasik adalah fardhu kifayah, dan bagi yang sudah ada kemampuan serta ada niat, hukum tersebut meningkat menjadi fardhu’ayn ,  karena bagi setiap individu yang akan melaksanakan haji dituntut untuk memperoleh dan mendapatkan ilmu yang benar tentang manasik dari ulama-ulama yang dipercayai. Mereka yang melaksanakan ibadah haji tanpa ilmu akan mengalami kerugian yang sungguh besar, bahkan hajinya bisa menjadi amalan sia-sia belaka-paling- paling akan dirasakan sebagai sekadar piknik saja. Pelaksanaan ibadah hajinya tidak meninggalkan bekas-bekas pada perilaku sesudahnya, kalaupun ada hanya sekedar cerita yang lebih merupakan kebanggaan dan menimbulkan perasaan peningkatan prestige saja.
    Perang antara idealisme pendidikan dan canggihnya teknologi informasi mengingatkan pada kita, betapa pentingnya melakukan upaya serius untuk mengingatkan anak dan diri kita sendiri tentang perjanjian azali serta jawaban kita pada seruan nabi Ibrahim ketika kita masih dalam tulang sulbi. Pelaksanaan latihan manasik haji bagi anak-anak TK sungguh merupakan hal yang patut didukung dengan kesungguhan dan manajemen yang serius, karena merupakan cerminan jawaban manusia atas seruan nabi Ibrahim as, yang perlu dimanifestasikan sedini mungkin, pumpung camera jiwa anak belum terlalu banyak merekam dan dimuati oleh hal-hal duniawi yang negatif.
    Usia balita adalah Critical period, masa peka bagi pendidikan rohani, usia dimana jiwanya relatif masih belum terlalu banyak tercoreng dengan kehidupan, sehingga akan lebih mudah tersentuh untuk diingatkan dengan janji dan jawabannya waktu masih di dalam sulbi maupun rahim ibunya. Pelaksanaan menasik haji pada anak TK dapat merupakan salah satu cara memberikan pengalaman pelaksanaan ibadah lengkap yang sedemikian rupa sehingga sangat berkesan dan tertanam dalam jiwanya yang masih polos dan  nantinya menjadi bagian  dari kepribadiannya yang agamis (cenderung kepada perilaku sesuai tuntunan  agama).
    Hal ini berkesesuaian dengan pandangan dalam ilmu jiwa agama (psikologi agama) yaitu sebuah ilmu yang saat ini sedang berkembang dengan pesat,  yang meneliti dan menelaah kehidupan beragama seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup, juga mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada seseorang dan faktor- faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut karena keyakinan masuk dalam konstruksi kepribadian.

PERKEMBANGAN  AGAMA  PADA  ANAK

    Kita perlu memahami bahwa pengalaman agama adalah subyektif, intern dan individual, dimana setiap orang akan merasakan pengalaman agama yang berbeda dari orang lain. Dalam hal ini juga ada tahap-tahap perkembangan.
    Pada anak-anak, mereka mulai mengenal Tuhan melalui bahasa. Tuhan bagi anak-anak pada permulaan merupakan nama dari sesuatu yang asing yang tidak dikenalnya dan diragukannya. Karenanya pada anak, agama adalah hasil dari lingkungan yang berkembang sebagiannya dari contoh yang diberikan oleh  orang  tua  dan  sebagian  lainnya  dari   pelayanan (program)
yang diberikan dengan sengaja.
    Kata Allah akan mempunyai arti sendiri bagi anak, sesuai dengan pengamatannya terhadap orang dewasa di sekelilingnya (orang tua/ Guru) ketika mengucapkannya. Allah akan berarti Maha Kuasa, Maha Penyayang atau lainnya sesuai dengan hubungan kata Allah itu dengan air muka dan sikap orang tua/ guru ketika menyebutnya. Oleh karena itu pertumbuhan agama pada anak tidak sama antara satu anak dengan yang lain karena tergantung kepada bagaimana perilaku dan perlakuan orang dewasa di sekelilingnya terhadapnya..
    Orang tua adalah pusat kehidupan ruhani si anak dan sebagai penyebab berkenalannya dengan alam luar, maka setiap reaksi emosi anak dan pemikirannya dikemudian hari, dipengaruhi oleh interaksi dengan orang tuanya di permulaan hidupnya. Kekaguman dan penghargaan terhadap figur bapak adalah penting untuk pembinaan jiwa moral dan fikirannya sampai umur 5 tahun, dan inilah bibit yang akan  menumbuhkan kepercayaan kepada Allah dalam masyarakat beragama. Hubungan emosional yang diwarnai kasih sayang dan kemesraan antara orang tua dan anak menumbuhkan proses identifikasi.

    Orang tua dan tokoh yang berperan sebagai orang tua, khususnya guru, semestinya dapat menjadi idola. Hal ini terutama tampak sekali pada saat anak sekolah di TK. Alangkah ideal bila guru menyadari bahwa dia bukan saja sebagai agen alih informasi (pengetahuan) bagi murid, tetapi juga berperan sebagai obyek identifikasi dan pembentuk kepribadian, sehingga segala perilaku, sikap dan nila-nilai yang ada pada guru betul-betul dapat berpengaruh besar sekali terhadap perkembangan jiwa murid nantinya
    Penghayatan tentang eksistensi Tuhan pada anak-anak berbeda dengan orang yang lebih dewasa. Anak menghayati Tuhan lebih sebagai pemuas keinginan dan khayalan yang bersifat egosentris (contoh: anak berdoa semoga  Tuhan memberi permen dan uang jajan), karena itu penanaman kesadaran beragama kepada anak hendaknya menekankan pada pemuasan kebutuhan afektif. Diusahakan agar anak dapat menghayati dan merasakan bahwa Allah itu tidak hanya sekedar pemberi mainan, kue dan kenikmatan lain, tetapi Allah adalah Pengasih, Penyayang, Pelindung, Pemberi rasa aman, tentram dan pemuas kebutuhan alam perasaan lainnya. Hal ini hanya dapat terjadi bila orang tua dan guru di kelas juga bersikap, bertindak dan memperlakukannnya dengan penuh kasih-sayang, melindungi, memberikan rasa aman, menentramkan disamping memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya. Bagaimanapun sebelum anak mengenal Tuhan-nya, yang dia kenal adalah orang-tuanya dan gurunya, yang bisa dia hayati sebagai wakil Tuhan di dunia. Pengalaman yang memuaskan dengan “wakil Tuhan” di usia dini, akan cukup menentukan penghayatannya terhadap Tuhan yang sesungguhnya di usia berikutnya. 
     Pada sekitar usia 8 tahun sikap anak semakin tertuju kepada dunia luar, namun hubungan anak dengan Tuhan masih merupakan hubungan emosional antara kebutuhan pribadinya dengan sesuatu yang ghoib dan dibayangkan secara konkrit. Contoh, ia ingin memiliki semacam tongkat Nabi Musa atau cincin Nabi Sulaiman (seperti yang didongengkan ibu guru / orang tua) untuk digunakan sebagai alat bagi pemenuhan kebutuhan dan keinginannya yang bersifat egosentris, konkrit dan segera (misal ingin PR langsung selesai, punya mainan kesukaan, dsb).
    Adanya perasaan konkrit tentang Tuhan sejalan dengan taraf pemikiran anak yang belum mampu berpikir abstrak. Kalau dikatakan bahwa Tuhan itu Maha Melihat, si anak membayangkan betapa besarnya mata Tuhan, kalau orang tua setiap memperingatkan anak dengan ancaman akan dihukum Tuhan, si anak akan mempersepsi Tuhan galak sekali. Kalau guru menerangkan gunung, bumi, bulan adalah ciptaan Tuhan, anak akan membayangkan tangan Tuhan besar sekali, atau Tuhan adalah raja yang sangat berkuasa duduk di singasana istananya yang sangat indah, mengatur malaikat-malaikat sebagai pegawaiNya yang sangat banyak, pandai dan patuh sekali sehingga mampu bersama-sama membangun bumi, bulan, gunung, dan sebagainya.
    Pada perkembangan tahap berikutnya setelah anak mampu berpikir secara abstrak dan logis, ia akan memahami bahwa Tuhan itu tidak dapat ditangkap dengan panca indera dan tidak mungkin dibayangkan oleh khayalan pikiran. Namun demikian jejak-jejak persepsi awal tentang Tuhan apakah sebagai figur yang maha menakutkan, maha menghukum, ataukah maha kuasa dan sekaligus maha pengasih dan maha penyayang tetap akan mewarnai penghayatan anak yang telah meningkat.
    Dapat dipahami bahwa pada usia balita dan usia yang lebih tua (6-12 tahun), kegiatan ibadah seperti sholat, puasa dan berdoa yang pada mulanya hanya meniru tingkah laku orang dewasa atau karena diperintah, lambat laun akan dihayati dengan kesungguhan. Lebih lanjut peningkatan rasa Ketuhanan dalam hubungan emosional yang diperkuat dengan ikatan moral akan dapat menumbuhkan penilaian bahwa kebaikan tertinggi adalah mengikuti perintah Allah dan meninggalkan laranganNya.   
    Bertambahnya umur pada anak maka pemikiran yang bersifat operasional konkrit beralih pada nilai wujud atau eksistensi hasil pengamatan. Pengamatan pada Tuhan yang tadinya konkrit-emosional, berubah jadi Tuhan sebagai Sang Pencipta dan Pemelihara, bukan hanya khusus berhubungan dengan dirinya (egosentris) tapi juga pada alam semesta dan melimpahkan rahmatNya bagi seluruh makhluk. Berdasarkan kepercayaan dan pemahaman ini si anak akan mampu  mengadakan hubungan yang harmonis dengan dunia luar, semakin bijaksana dan dapat mengontrol dirinya sendiri.
    Dari apa yang telah diuraikan tersebut,  nyatalah bahwa di dalam menjalankan kewajiban mendidik agama pada anak, khususnya pada saat akan merencanakan pendidikan manasik haji anak TK, kita betul-betul harus  memahami tahapan perkembangan anak, sehingga apa yang kita sampaikan dan apa yang kita harapkan menjadi proporsional dan tidak berlebihan. Sehingga program manasik haji pada TK menjadi pengalaman keagamaan yang membahagiakan dan tidak menekan.
PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS MASA KANAK-KANAK (2-6 TAHUN)  
    Agar seorang anak mencapai suatu kebahagiaan dan berhasil dalam tugas perkembangan periode berikutnya, setiap individu dituntut untuk berkembang optimal sesuai dengan fasenya yang meliputi : aspek fisik, aspek kognitif, aspek sosial- afektif, dan aspek spiritual-religius.
    Pada fase anak 2-6 tahun kemampuan-kemampuan motorik, bahasa, fungsi kecerdasan, sosial-afektif dan moralnya berjalan sejajar dengan perubahan-perubahan dalam tingkah laku dan kepribadian. Pada masa kanak-kanak seorang individu mempunyai tugas perkembangan (kualitas kemampuan yang harus dicapainya) dalam hal:
1.    Belajar memperoleh keterampilan jasmani untuk melakukan permainan.
2.    Belajar membentuk sikap mental yang sehat terhadap diri sendiri sebagai makhluk biologis.
3.    Belajar bergaul dengan teman sebaya.
4.    Belajar memainkan peranan sebagai pria atau wanita.
5.    Belajar mengembangkan keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung.
6.    Belajar mengembangkan konsep-konsep yang perlu untuk kehidupan sehari-hari.
7.    Belajar mengembangkan kata hati, moralitas dan nilai.
8.    Belajar berdiri sendiri secara pribadi.
    Khususnya dalam perkembangan sosial-afektifnya, seorang anak dituntut untuk mampu berperilaku sesuai dengan tuntutan sosial. Untuk berkembang dalam hal ini memerlukan  3 proses :
a.    Belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial dengan cara mengetahui dan menyesuaikan perilaku dengan patokan yang dapat diterima.
b.    Memainkan peran sosial yang dapat diterima dengan jalan mematuhi peran yang telah disetujui bersama.
c.    Mengembangkan sikap sosial dengan jalan anak harus menyukai orang lain dan aktivitas sosial.
Relatif hanya sedikit anak yang benar-benar berhasil dalam ketiga proses tersebut.
    Pada masa kanak-kanak ada dorongan kuat untuk bergaul dan ingin diterima, jika kebutuhan ini tidak terpenuhi anak tidak akan bahagia. Sikap anak terhadap orang lain, pengalaman sosial serta seberapa baik mereka dapat bergaul dengan orang lain, tergantung pada pengalaman belajar selama bertahun-tahun di awal kehidupannya.
    Dalam hal perkembangan emosi, seorang anak dituntut untuk mampu mempelajari cara bereaksi dengan emosi yang dapat diterima secara sosial. Anak dapat dirangsang atau dilatih untuk bereaksi positif terhadap hal-hal yang biasanya membangkitkan emosi senang dan dicegah untuk tidak bereaksi secara emosional berlebihan terhadap hal-hal yang tidak menyenangkan. Apabila reaksi emosional yang tidak diinginkan telah terlanjur dipelajari dan terbentuk dalam pola emosi anak, maka akan semakin sulit merubahnya dengan bertambahnya usia anak. Karenanya belajar pengendalian emosi sejak dini tidak hanya positif tetapi juga bersifat preventif. 

Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi adalah:
Ø  Belajar secara coba-coba pada masa anak.
Ø  Dengan cara meniru
Ø  Dengan cara mempersamakan diri, dalam hal ini anak hanya akan meniru pada orang yang dikaguminya dan mempunyai ikatan emosional yang sangat kuat.
Ø  Melalui pengkondisian berarti belajar dengan cara asosiasi.
Ø  Pelatihan dengan bimbingan dan pengawasan.
Ø  Anak diajari cara bereaksi emosi yang dapat diterima sosial, proporsional dan tepat dengan stimulus (penyebab timbulnya emosi).

    Ada satu aktivitas yang sangat penting yang perlu kita pahami pada masa anak  yaitu aktivitas bermain. Fungsi bermain mempunyai pengaruh besar sekali bagi perkembangan anak. Melalui bermain anak akan memperoleh kesempatan untuk berusaha mencoba-coba dan melatih diri. Saat bermain-main anak berkesempatan melakukan eksperimen-eksperimen tertentu dan bereksplorasi sambil menguji kesanggupannya. Anak akan mendapatkan bermacam-macam pengalaman yang menyenangkan sambil menggiatkan usaha belajar dan melaksanakan tugas-tugasnya untuk mengembangkan berbagai kemampuan yang harus dimilikinya. Semua pengalaman ketika bermain, akan memberikan dasar yang kokoh bagi pencapaian macam-macam keterampilan yang sangat diperlukan bagi pemecahan kesulitan hidup di kemudian harinya. Maka dapat dimengerti bahwa waktu bermain merupakan kesempatan yang baik untuk melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan hidup dan hidup itu sendiri.
Ada 4 faktor yang menentukan :
1.  Kesempatan.
2.    Kebersamaan yang mendorong kemampuan berkomunikasi.
3.    Motivasi yang sebagian besar tergantung pada tingkat kepuasan yang diperolehnya.
4.    Metode belajar yang efektif dengan bimbingan.

MANASIK HAJI BAGI ANAK TK, PENTING & PERLU !
    Dari berbagai uraian dimuka, tampak bahwa manasik haji bagi anak prasekolah dapat kita pandang sebagai suatu upaya pembelajaran nilai-nilai moral dan agama dengan metode simulasi. Metode pembelajaran yang apabila kita manage dan kita rencanakan sedemikian rupa dengan muatan-muatan psikologis yang terkontrol, akan dapat menimbulkan suatu kesan yang mendalam dan dapat kita andalkan sebagai salah satu cara membentuk pribadi anak yang agamis.
    Latihan Manasik haji TK dapat dipandang sebagai bentuk permainan, yaitu permainan peran yang mengasyikkan anak dimana anak pura-pura menjadi seorang muslim yang sedang melaksanakan ibadah terlengkap dalam agama Islam, karena dalam ritual haji meliputi pelaksanaan: Pengucapan Syahadatain, Sholat, Puasa dan zakat serta haji itu sendiri.
    Ritual-ritual yang dilakukan anak dengan tuntunan dari ibu/bapak guru, walaupun hanya merupakan permainan peran, tetap merupakan aktivitas serius karena dapat dihayati dan membutuhkan kesungguhan dan konsentrasi. Seluruh aspek psikologi anak akan tersentuh, karena praktek manasik tersebut dilakukan dengan aktivitas fisik anak dengan secara urut dan teratur , aktivitas kognitif anak terstimulasi(terangsang) dalam bentuk mendengarkan, menghafal dan mengerti doa-doa serta urutannya, aktivitas sosial-afektif akan dipelajari dalam bentuk beraktivitas bersama-sama dengan teman-temannya dan berlatih untuk menerima aturan permainan, berlatih untuk mematuhi aturan-aturan yang diinformasikan guru, berlatih untuk memenuhi harapan orang lain dengan bertingkah-laku tertib dan berlatih tanggung-jawab, berlatih bersikap sosial seperti mengalah, tertib, toleran, membagi, berkorban  dan sebagainya yang akan memacu sosialisasi anak. Dalam manasik, anak akan mengenal nilai-nilai moral dan agama praktis, anak akan mendapatkan pengalaman tentang perilaku-perilaku yang boleh dan yang tidak boleh dia lakukan, baik sesuai dengan agama maupun sesuai dengan tuntutan lingkungan.
    Sebagai suatu aktivitas simulasi, aktivitas permainan pura-pura, maka manasik haji TK, sekalipun sederhana dan simpel bagaimanapun akan dapat memberikan dampak positif sebagaimana manasik haji yang sesungguhnya yang dilakukan para muslim dewasa.
Diantara manfaat haji “yang sesungguhnya” yang perlu kita ketahui adalah :
1.    Melatih diri  dengan mempergunakan seluruh kemampuan mengingat Allah dengan  khusu’ pada hari-hari yang telah ditentukan dengan memurnikan kepatuhan dan ketundukan hanya kepada-Nya saja. Pada waktu seseorang berusaha mengendalikan hawa nafsunya dengan mengikuti perintah-peritah Allah dan menghentikan larangan-larangan-Nya walau apapun yang menghalangi dan merintanginya. Latihan-latihan yang dikerjakan selama mengerjakan ibadah haji itu diharapkan berbekas di dalam hati sanubari kemudian dapat diulangi lagi mengerjakan setelah kembali dari tanah suci nanti, sehingga menjadi kebiasaan yang baik bagi penghidupan dan kehidupan.
2.    Menimbulkan rasa perdamaian dan rasa persaudaraan diantara sesama kaum Muslimin. Sejak seorang calon haji mengenakan pakaian ihram, pakaian putih yang tak berjahit-sebagai tanda telah mengerjakan ibadah haji-maka sejak itu ia telah menanggalkan pakaian duniawi, pakaian kesukaannya, pakaian kebesarannya pakaian kemewahannya dan sebagainya. Semua manusia kelihatan sama dalam pakaian ihram; tidak dapat dibedakan antara si kaya dan si miskin, antara penguasa dengan rakyat jelata, antara yang pandai dengan yang bodoh, antara tuan dengan budak, semuanya sama tunduk dan dan menghambakan diri kepada Tuhan Semesta Alam, sama-sama thawaf, sama-sama berlari di panas terik antara bukit Shafa dan Marwah, sama-sama berdesakan melempar jumrah, sama-sama tunduk dan tafakur di tengah-tengah padang Arafah. Dalam keadaan demikian terasalah bahwa diri itu sama saja dengan orang lain. Yang membedakan derajat antara seseorang dengan yang lain hanyalah tingkat ketakwaan dan ketaatan kepada Allah. Karena itu timbullah rasa ingin tolong-menolong, rasa seagama, rasa senasib dan sepenanggungann, rasa hormat-menghormati sesama manusia.
3.    Mencoba mengalami dan membayangkan kehidupan di akhirat nanti, yang pada waktu itu tidak seorang pun dapat memberikan pertolongan kecuali Allah SWT. Wuquf di Arafah di tempat berkumpulnya manusia yang banyak merupakan gambaran kehidupan di mahsyar nanti. Demikian pula melempar jumrah di panas terik tengah padang pasir dalam keadaan haus dan dahaga. Semua itu menggambarkan saat-saat ketika manusia berdiri di hadapan  Mahkamah Allah di akhirat nanti.
4.    Menghilangkan rasa harga diri yang berlebih-lebihan. Seseorang waktu berada di negerinya, biasanya terikat oleh adat-istiadat yang biasa mereka lakukan sehari—hari dalam pergaulan mereka. Sedikit saja perbedaan dapat menimbulkan kesalahpahaman, bahkan dapat menimbulkan perselisihan dan pertentangan. Pada waktu melaksanakan ibadah haji bertemulah kaum muslimin seluruh dunia dari negeri yang berbeda-beda, masing-masing mempunyai adat-istiadat, kebiasaan hidup dan tata cara yang berbeda-beda pula. Maka terjadilah persinggungan antara adat-istiadat dan kebiasaan hidup itu. Seperti cara berbicara, cara makan, cara berpakaian, dan menghormati tamu dan sebagainya. Di waktu menunaikan ibadah haji terjadi persinggungan dan benturan badan antara jamaah dari suatu negeri dengan jamaah dari negara-negara yang lain, seperti waktu Thawaf, waktu Sa’i, Wukuf di Arafah, waktu melempar jumrah dan sebagainya. Waktu shalat di Masjidil Haram, tubuh seseorang yang sedang duduk dilangkahi oleh temannya yang lain karena ingin mendapatkan shaf yang di depan, demikian pula persoalan bahasa dan isyarat, semua itu mudah menimbulkan kesalahpahaman dan perselisihan. Bagi seseorang yang sedang melakukan ibadah haji, semua itu harus dihadapi dengan sabar, dengan dada yang lapang harus dihadapi dengan berpangkal pada dugaan-dugaan bahwa semua jamaah haji melakukan yang demikian itu bukanlah untuk menyakiti temannya dan bukan pula untuk menyinggung perasaan orang lain, tetapi semata-mata untuk mencapai tujuan maksimal dari ibadah haji. Mereka semuanya ingin memperoleh haji mabrur, apakah ia orang kaya atau orang miskin dan sebagainya.    
5.    Menghayati kehidupan dan perjuangan Nabi Ibrahim beserta putranya Ismail dan Muhammad SAW beserta para sahabatnya waktu Nabi Ibrahim pertama kali datang di Makkah bersama isterinya Hajar dan puteranya Ismail yang masih kecil. Kota Makkah masih merupakan padang pasir yang belum didiami oleh seorang manusia pun. Dalam keadaan demikianlah Ibrahim meninggalkan isteri dan puteranya di sana, sedangkan ia sendiri kembali ke Syiria. Dapat dirasakan apa yang dimiliki Hajar dan puteranya yang masih kecil, tidak ada manusia tempat mengadu dan minta tolong kecuali hanya kepada Tuhan saja. Sesayup-sayup mata memandang terbentang padang pasir yang luas tanpa tumbuh-tumbuhan yang dapat dijadikan tempat berlindung. Dapat dirasakan kesusahan Hajar berlari antara bukit Shafa dan Marwah mencari setetes air untuk diminum anaknya. Dapat direnungkan dan dijadikan teladan tentang ketaatan dan kepatuhan Ibrahim kepada Allah. Ia telah bersedia menyembeliih putera tercintanya Ismail semata-mata untuk memenuhi dan melaksanakan perintah Allah. Kaum muslimin selama mengerjakan ibadah haji dan melihat bekas-bekas dan tempat-tempat yang ada hubungannya dengan perjuangan Nabi Muhammad bersama sahabatnya dalam menegakkan agama Allah. Sejak Dari Makkah di saat-saat ia mendapat halangan, rintangan bahkan siksaan dari orang-orang musyrik Makkah. Kemudian ia hijrah ke Madinah berjalan kaki dalam keadaan dikejar-kejar orang-orang kafir. Demikian pula usaha-usahanya yang ia lakukan di Madinah berperang dengan orang-orang kafir, menghadapi kelicikan dan fitnah orang Yahudi. Semua itu dapat diingat dan dihayati selama menunaikan ibadah haji dan diharapkan dapat menambah iman dan ketakwaan kepada Allah SWT yang Maha Pengasih lagi maha Penyayang.
6.    Sebagai muktamar Islam seluruh dunia. Pada musim haji berdatanganlah kaum Muslimin dari seluruh dunia. Secara tidak langsung terjadilah pertemuan kaum Muslimin seluruh dunia, antara suku bangsa  dengan suku bangsa, antara bangsa dengan bangsa yang beraneka ragam coraknya itu. Antara mereka itu dapat berbincang dan bertukar pengalaman dengan yang lain sehingga pengalaman dan pemikiran seseorang dapat diambil dan dimanfaatkan oleh orang lain, terutama setelah masing-masing mereka sampai di negeri mereka nanti. Jika pertemuan yang seperti ini diorganisir dengan baik, tentulah akan besar manfaatnya. Akan dapat memecahkan masalah-masalah yang sulit yang dihadapi umat Islam di negara mereka masing-masing. Semuanya itu akan berfaedah pula bagi individu, masyarakat dan agama. Alangkah baiknya jika waktu itu diadakan pertemuan para ahli, para ulama, para pemuka masyarakat, para usahawan dan sebagainya. Disamping enam macam yang dikemukakan ini, ada lagi manfaat yang paling penting, yaitu perluasan wawasan keilmuan sehingga terbukalah pikiran kita betapa banyaknya mazhab-mazhab dalam pelaksanaan ibadah, tetapi semua itu satu dalam agama, saudara dalam iman.

Betapa besarnya dampak psikologis manasik haji yang sesungguhnya akan juga dapat diperoleh anak dalam bentuk simulasi yang sederhana, namun demikian untuk mencapai dampak positif yang optimal tentunya ada hal-hal yang perlu diketahui dan dipersiapkan oleh guru dan orang tua  lebih dahulu.
Saran yang dapat kami berikan adalah:
a.    Manasik haji TK seharusnya dilaksanakan dengan serius, dengan jadwal dan urutan yang benar mendekati manasik haji yang sesungguhnya. Namun demikian juga jangan sampai permainan simulasi ini menjadi sedemikian terlalu seriusnya sehingga anak kehilangan kenikmatan memainkan peran. Suasana menyenangkan dan merangsang ingin tahu dan merangsang minat anak perlu dibina.
b.    Bapak/ibu guru dan orang tua, semestinya telah menguasai dan mengerti manasik haji sekalipun belum tentu sudah ber- haji. Sehingga informasi yang diberikan pada anak dalam bentuk dongeng/cerita sebelum melakukan manasik akan mengesankan dan meyakinkan anak. Guru dan orang tua akan mampu memberikan sugesti sedemikian rupa sehingga anak didik  tidak akan dapat melupakannya seumur hidupnya, membekas dalam sanubari dan InsyaAllah akan mempengaruhi jiwa dan perilakunya.
c.    Agar lebih menimbulkan kesan mendalam, maka pengaturan tempat maupun sarana semesthinya diatur sedemikian rupa sehinga memungkinkan anak benar-benar merasakan seperti naik haji betulan, anak-anak akan benar-benar melakukan aktivitas fisik, sosial dan psikis.
d.    Program ini jangan sampai hanya menjadi program popular dan demi prestise Sekolah saja, tetapi benar-benar sebagai program pendidikan yang terstruktur dan terencana dengan target pendidikan yang jelas. Sebagai suatu program dakwah yang bahkan dapat menyentuh tidak hanya pada anak saja tapi juga dapat menyentuh sampai pada orang tua dan keluarga murid.  Karenanya promosi menjadi suatu hal yang penting.
e.    Perlu disusun suatu modul pelaksanaan manasik haji di TK, sehingga ada tuntunan bagaimana menyelenggarakannya dengan benar.

Demikianlah, dengan informasi yang benar yang dikuasai, dengan manajemen yang serius dan bersungguh-sungguh dan lebih-lebih dengan niatan yang benar dan “bersih”, InsyaAllah penyelenggaraan Manasik Haji bagi TK adalah sangat psikologis dan diridhoi Allah SWT.

 “Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.
Dan didekatkanlah sorga itu kepada orang-orang yang bertaqwa pada tempat yang tiada jauh dari mereka.
Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturanNya).(QS. QOOF, 50:18, 31, 32)

Sabtu, 27 Agustus 2016

Pernikahan Mubarak Santri Hidayatullah Medan

TAK ada yang lebih berharga dalam rumah-tangga kecuali pernikahan yang penuh barakah. Tak ada yang lebih patut kita harapkan dalam pernikahan melebihi barakah. Inilah yang Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam tuntunkan kepada kita.

Sesungguhnya, barakah adalah kebaikan yang sangat banyak, kebaikan yang berlimpah, kebaikan yang bertambah-tambah. Jika pernikahan kita berlimpah barakah, maka bahagia pasti akan menyertai. Sebaliknya, pernikahan yang bahagia, belum tentu ada barakah di dalamnya.

Jika Allah Ta’ala berikan barakah, maka apa yang tampaknya merupakan kesulitan, maka ia akan menjadi jalan kebaikan. Apa yang tampaknya berat, mendatangkan kebaikan.

Sebaliknya, jika Allah Ta’ala mencabut barakah dari pernikahan, maka apa yang saat ini mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan akan menjadi jalan datangnya keburukan di kemudian hari.

 Itu sebabnya, kita harus senantiasa mengharap barakah Allah ‘Azza wa Jalla dan berusaha untuk menempuh jalan yang penuh barakah.

Pada tanggal 14 Agustus 2016 Pesantren Hidayatullah Medan menyelenggarakan pernikahan barakah 2 pasang santri yaitu Habullah Lubis dengan Irmayati serta Abdullah dengan Mardhiyyah. 

Semoga Allah Ta’ala berikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua. Kita memohon petunjuk dan kekuatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk mampu melaksanakan apa yang telah ditunjukkan-Nya.

Sesungguhnya nilai setiap amal sangat tergantung kepada niatnya. Jika niat kita benar dan mulia, maka hal-hal mubah yang kita kerjakan dalam rangka meraih kemuliaan tersebut, akan terhitung sebagai kemuliaan juga.

Sebaliknya, apa-apa yang diwajibkan maupun disunnahkan dalam agama ini, jika melakukannya bukan karena niat yang benar, maka kebaikan tersebut tak berharga di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

Nikah merupakan salah satu sunnah Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Yang dimaksud sunnah dalam hal ini adalah sesuatu yang dicontohkan dan sekaligus diperintahkan dengan perintah yang jelas dari Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam.

Jika kita menikah karena ingin memuliakan sunnah, maka Allah Ta’ala akan limpahi barakah dalam pernikahan kita. Karena itu, kita perlu membenahi niat, terutama saat menjelang nikah agar niat kita lurus. Kita menikah karena ingin mengikuti sunnah Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Bukan sekedar karena sudah sangat ingin menikah.

Mari kita ingat sejenak sabda Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam:
اَلنِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِي فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي، وَتَزَوَّجُوْا، فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اْلأُمَمَ، وَمَنْ كَانَ ذَا طَوْلٍ فَلْيَنْكِحْ، وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ

“Menikah adalah sunnahku. Barangsiapa yang enggan melaksanakan sunnahku, maka ia bukan dari golonganku. Menikahlah kalian! Karena sesungguhnya aku berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan seluruh ummat. Barangsiapa memiliki kemampuan (untuk menikah), maka menikahlah. Dan barangsiapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa karena puasa itu adalah perisai baginya (dari berbagai syahwat).” (HR. Ibnu Majah).

Sabtu, 28 Mei 2016

Go Green Pondok Pesantren Hidayatullah Medan

Polusi adalah zat atau senyawa kimia atau bahan-bahan berbahaya lainnya yang masuk ke dalam lingkungan pada kadar melebihi ambang batas toleransi yang dapat diterima manusia sehingga membahayakan kehidupan makhluk hidup di dalamnya.
Dulu sebelum banyak penemuan-penemuan di bidang teknologi yang menggunakan mesin, bumi ini dalam keadaan normal dan tidak membahayakan. Oksigen masih  bersih karena tidak ada pencemaran lingkungan. Namun seiring berjalannya masa, timbullah teknologi-teknologi yang mengandung bahan-bahan yang merusak udara. Cotohnya cfc dari pendingin ruangan, kulkas. Begitu pula asap kendaraan bermotor yang membuat polusi udara semakin menjadi-jadi. Zat-zat berbahaya itulah yang disebut polutan.
Adapun polusi bisa diurai menjadi tiga macam, d iantaranya:
Polusi Tanah
Penyebab utama terjadinya polusi tanah adalah sampah. Dalam hal ini sampahlah yang menjadi polutannya. Sampah-sampah yang berbahan dasar plastik, kaca, logam, dan insektisida akan sulit diurai oleh dekomposer di dalam tanah. Akibatnya, sampah-sampah itu tidak hancur, terbenam, dan menumpuk dalam jangka waktu yang lama.
Hal demikian akan membuat tanah menjadi berkurang porositasnya. Begitu pula bila ada sampah yang mengandung bahan insektisida dan logam berat di dalam tanah. Bahan tersebut bisa jadi akan membahayakan makhluk hidup di dalam tanah yang sesungguhnya menguntungkan manusia, misalnya cacing yang berguna untuk menggemburkan tanah.
Polusi Air
Polutan yang paling sering menjadi biang keladi terjadinya polusi air ialah sisa limbah pabrik, limbah rumah sakit, limbah rumah tangga, limbah pertanian, sampah organic, dan logam berat. Polutan-polutan tulah yang dapat mengubah komposisi air menjadi tidak layak digunakan dan dikonsumsi oleh makhluk hidup terutama manusia.
Polusi Udara
Polusi udara yang paling terasa oleh makhluk hidup dibanding polusi tanah dan air. Sebab, manusia membutuhkan udara setiap detik untuk  bernafas. Ketika udara tercemar, maka yang dirasakan adalah pernafasan yang terganggu, aneka macam penyakit mata, dan batuk . Polusi udara pencetus utama terjadinya efek rumah kaca yang berakibat pada pemanasan global.
Banyak aktivis dan masyarakat seluruh dunia yang gencar mencanangkan program go green untuk menyelamatkan bumi. Go green adalah tindakan atau perbuatan yang ditujukan untuk menyamatkan bumi dari segala kerusakan akibat ulah manusia, dimana cara penyelamatannya dilakukan dengan program yang lebih menitik beratkan pada penghijauan lingkungan.
Pada tanggal 19 Mei 2016 Pondok Pesantren Hidayatullah Medan bekerjasama dengan PT Indofood Kota Medan menggelar kegiatan bersama Go Green yang diikuti oleh seluruh santri dan warga serta keluarga besar Pondok Pesantren Hidayatullah Medan. Kegiatan dilakukan dengan cara menanam 100 pohon buah dan pohon produktif untuk menghijaukan lingkungan. Kegiatan go green dilakukan adalah sebagai wujud kepedulian dan tanggung jawab penghuni pondok pesantren ini untuk tetap berupaya menggalakkan usaha menyelamatkan bumi. Mari bersama-sama kita mengusahakan yang terbaik untuk tempat bernaung kita!

Senin, 21 Maret 2016

Upaya Pembinaan Keimanan Pada Karyawan PT Morta Mega Sejati

Di akhir zaman ini dunia kerja dan indusrti terus berkembang dengan pesat. Industri dan perkembangan sains serta teknologi pun semakin canggih. Orang-orang berbondong-bondong berupaya mengangkat derajat dan martabat dirinya dengan pendidikan serta kerja keras  agar mendapat status sosial yang baik dan terhormat.

Berbagai bidang sains dan teknologi serta kemampuan profesi  mereka pelajari dan tuntut  dalam lembaga-lembaga pendidikan serta pelatihan baik yang berdomisili di dalam negeri maupun di luar negeri. Perkembangan zaman sains dan teknologi serta industri membawa manusia kepada kemajuan berfikir, bersikap dan berkarya dengan berbagai motivasi dan tujuan.

Namun kewajiban pertama bagi manusia adalah mengenal Allah,utusan-Nya dan kebenaran risalah melalui ilmu yang membuahkan keyakinan, mengenal tempat kembalinya kelak dan mengenal agama Tuhannya yang Ia perintahkan untuk mengikuti-Nya. Semuanya diharapkan bisa mengaantar manusia kepada pengetahuan tentang hakekat hidup dan kehidupan. Dari pengetahuan tersebut diharapkan lahir kesadaran serta tanggungjawab sebagai manusia sebagai hamba dan KhalifaahNya dalam hidup.

 Pengetahuan  serta kesadaran itu akhirnya menjadi keyakinan dan membentuk karakter. Maka lahirlah kemudian perilaku yang diKesadaran itulah yang dinamakan dengan Iman. Keimanan merupakan hal yang sangat urgen bagi manusia dalam menjalani kehidupan. Karena, iman berfungsi untuk menemukan keserasian antara pikiran, perasaan dan perbuatan.”

Keimanan juga dapat menciptakan rasa aman dan ketenteraman dalam hidup.Untuk dapat mencapai hal tersebut maka perlu adanya suatu bimbingan dan arahan secara terus menerus tentang hal-hal yang berkaitan dengan keimanan yang diantaranya yaitu aqidah yang kuat, ibadah yang teratur serta melahirkan perilaku mulia atau akhlak al-karimah dalam hidup, dalam bekerja dll. dengan melalui pembiasaan dan pembinaan.

Hal itulah yang dilakukan oleh Dirut PT Morta Mega Sejati, Abun Salim bersama Wakil Dirut Agus Setia Yunan terhadap karyawannya yang muslim. Morta membuat kegiatan pembinaan untuk para karyawannya yang muslim dalam bentuk majlis ta’lim di perusahaan miliknya. Dan penceramahnya di datangkan dari Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa.Padahal pemilik perusahaan tersebut adalah Tionghoa beragama Budha.

Dalam satu kesempatan, yaitu pada tgl. 7 Maret 2016  Abun Salim bersama  Agus Setia Yunan serta beberapa staf perusahaan berkunjung ke Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa untuk bersilaturrahmi dengan Pimpinan Pondok serta menyampaikan hajatnya untuk berbagi kepada santri berupa beras serta peralatan Ankutan Makanan dapur umum. 

Senin, 29 Februari 2016

Pesantren Hidayatullah Medan Gelar Upgrading untuk Tingkatkan Kompetensi Guru

Mengisi liburan sekolah bukan hanya dengan refreshing menyegarkan fisik dan fikiran dengan melakukan kegiatan outdoor. Tetapi melakukan penyegaran juga ada cara laun salah satunya dengan memanfaatkan kesempatan untuk mengikuti upgrading dalam rangka meningkatkan kemampuan dan komptensi diri para guru yang ada di lingkungan  Pondok Pesantren Hidayatullah Medan.
Pada tanggal 26 Februari 2016 kemarin, dilakukan pelatihan guru di Aula Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Medan yang menghadirkan narasumber pakar yakni Ir. Salamah S.Psi, dengan tema acara: “Menjadi Guru Profesional yang Dicintai”. 

Pelatihan ini terselenggara atas kerjasama antara Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah dengan DPW Hidayatullah Sumatera Utara. Upgrading dibuka oleh Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Drs. Khoirul Anam. 

Dalam sambutannya Khoirul Anam menegaskan bahwa semua guru harus bisa berkreasi dan berinovasi dalam memberikan pembelajaran kepada siswa.

Oleh karenanya, beliau berpesan, para guru wajib untuk selalu belajar dan menambah wawasan keguruan serta kependidikan. Belajar bagi ummat Islam tidak terbatas hanya sampai sarjana. Itulah yang di istilahkan dengan Long Life Education. Belajar sepanjang hayat. Dalam bahasa agama di istilahkan dengan : 

"طلب العلم من المهد إلى اللحد ") الحديث )

“ Mencari Ilmu mulai dari ayunan Ibu hingga masuk liang lahat”.

Hal ini juga sesuai dengan amanat pasal 3 UU Sisdiknas yang berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Tragisnya, sambung beliau, fasilitas dan cara pembelajaran yang ada di indonesia masih disinyalir cocok untuk persiapan abad 19, padahal kita menyongsong abad 21. Maka kepada seluruh komponen bangsa terutama para guru dan sarana prasarana yang diberikan agar mengeluarkan seluruh potensi, mampu berkreasi, berinovasi, mengembangkan pendidikan, untuk menyongsong abad yang akan datang.


Rabu, 17 Juni 2015

Bhakti Sosial Tim Penggerak PKK Kabupaten Deli Serdang

 
Hari Selasa tanggal 16 Juni 2015, Tim Penggerak PKK Kabupaten Deli Serdang bertandang ke Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa Deli Serdang dalam rangka Bhakti Sosial. Rombongan berjumlah 20 orang . Rombongan dipimpin oleh Ketua Penggerak PKK Kabupaten Deli Serdang Ibu Yunita Azhari Tambunan ( Isteri Bupati ) didampingi oleh Ibu Hj Asdiana Zainuddin ( Isteri Wakil Bupati a), Kepala Dinas  Sosial Deli Serdang Bapak Raslan Sitompul, Kepala Dinas  Tenaga Kerja Dan Transmigrasi , Kepala Bagian Kesra Bapak H. Gustur Husin Siregar, Kepala Badan Ketahanan Pangan, Camat Tanjung Morawa Bapak Timur Tumangger , serta Kepala Desa Bandar Labuhan H. Hajeman.
 
Dalam kunjungan tersebut Tim menyerahkan bantuan sembako serda uang untuk kebutuhan santri dalam memasuki Ramadhan. Dalam penyampaiannya Isteri Bupati Deli Serdang tersebut menyampaikan kebanggaannya kepada Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa yang mengalami kemajuan yang sangat pesat, dan telah banyak berkiprah membantu pemerintah melalui dunia pendidikan dan dakwah Islam.
 
Dalam penyampaiannya Ibu Yunita Azhari Tambunan menyatakan kebanggaannya kepada Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa Medan yang senantiasa berbenah meningkatkan performencnya dan terus mengalami perkembangan serta kemajuan. Kekaguman beliau dan rombongan akan nuansa pondok yang teduh penuh dengan pepohonan yang rindang cocok untuk tempat pendidikan atau belajar.
 
 
Beliau juga berterimakasih kepada pihak pengurus pondok yang telah merancang program – program yang sungguh sangat mendukung pemerintah dalam rangka memajukan anak bangsa. Pemerintah siap membantu sekuat tenaga untuk kemajuan pondok pesantren ini.
Dalam sambutannya Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah, Drs. Choirul Anam menyampaikan :
“ Pondok Pesantren Hidayatullah Medan hadir dengan program utama pendidikan dan dakwah Islamiyah. Tujuannya adalah ingin mengambil peran aktif secara maksimal dalam membantu pemerintah untuk mencerdaskan bangsa serta mengentaskan kemiskinan. Baik itu miskin structural, miskin financial, miskin social, miskin intelektual, terlebih lagi adalah miskin spiritual serta keyakinan “.
Jika Deli Serdang Memiliki semboyan CERDAS, maka Pesantren Hidayatullah memiliki sedang menggalakkan IQRA’, meneladani Nabi Muhammad SAW dalam mengemban missinya mencerahkan Ummat dan Mencerdaskannya dengan Wahyu yang pertama kali turun adalah Iqra’.
 
Iqra artinya membaca, tentu tidak hanya membaca literature semata-mata, tetapi lebih jauh lagi adalah membaca situasi, membaca fenomena, membaca lingkungan, membaca pola piker serta budaya dan membaca kekuasaan Tuhan yang Nampak terbentang di alam semesta.
 
Dari proses membaca itulah maka ummat ini bisa mendapatkan kesimpulan, apa sesungguhnya yang sedang terjadi dan bagaimana meresponnya atau bagaimana mengantisipasi serta mengatasinya. Dengan proses membaca yang seperti itu maka bangsa ini akan menjadi cerdas. Tidak mudah dikelabui, tidak gampang dipengaruhi. Bangsa atau ummat ini akan bisa memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Dengan membaca maka ummat ini akan bangkit dari keterpurukannya.” Demikian Choirul Anam dalam sambutannya.
Copyright © 2018 | Ada Pertanyaan? Klik Di Sini!